
“Kiprah Munir dalam kerja hak asasinya bukanlah kiprah yang anasionalistik. Dengan caranya sendiri, Munir mencintai negeri ini, memperjuangkan demokrasi dan hak asasi manusia. Buat saya tak ada yang lebih nasionalistik ketimbang kesadaran bahwa demokrasi dan hak asasi manusia mesti ditegakkan dengan segala cara, berapapun ongkosnya, agar harkat dan martabat manusia (human dignity) tetap terjaga. Ketika orang seperti Munir tak terlalu galau dengan nasionalitas, ketika yang terpenting adalah manusia-human beings ketika itulah dia sampai pada puncak nasionalisme. Kesadaran inilah yang membuat Munir hadir di tengah kita sebagai ‘a true human rights defender’.”
Testamen Munir Episode 14 menampilkan obituari karya Todung Mulya Lubis (Duta Besar RI untuk Norwegia Merangkap Islandia) dengan judul “Munir: A True Human Rights Defender”. Menceritakan persinggungan antara Todung Mulya Lubis dengan Munir semasa hidup. Keduanya pernah terlibat dalam Komisi Penyelidik Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Timor Timur (KPP HAM Timtim). Baginya, Munir merupakan sosok pejuang HAM yang pemberani. Munir tidak anti militer, seperti kata orang yang menuduhnya demikian. Justru, Munirlah yang memperjuangkan reformasi militer. “Militer, bagaimanapun, harus tunduk pada supremasi sipil. Penguatan supremasi sipil ini hanya bisa dicapai dengan secara tajam dan kritis terus menerus mempertanyakan bahaya militer dalam demokrasi dan hak asasi manusia…” tulis Todung Mulya Lubis dalam obituarinya.
Memperingati #16TahunPembunuhanMunir, obituari karya Todung Mulya Lubis akan dibacakan oleh Gede Robi (musisi; vokalis & gitaris Navicula; aktivis)− menceritakan kesan Todung Mulya Lubis atas perjumpaannya dengan Alm. Munir semasa hidup.