
Rekrutmen yang adil tidak hanya diukur dari prosedur yang terlihat terbuka, tetapi dari kesetaraan akses sejak awal. Ketika relasi keluarga atau kedekatan personal menjadi jalur masuk informal, proses seleksi kehilangan objektivitasnya.
Dalam konteks ini, nepotisme bukan sekadar persoalan etika individu, melainkan kegagalan sistemik dalam menjamin prinsip meritokrasi.