Seorang ulama menceritakan perubahan hidup yang sangat nyata setelah sebuah keluarga membiasakan membaca Surah Al-Baqarah di rumah. Sebelumnya, rumah tersebut dipenuhi pertengkaran, mudah tersinggung, emosi meledak-ledak, dan persoalan kecil menjadi masalah besar. Dari sisi ekonomi pun, berapa pun penghasilan yang diperoleh selalu terasa kurang.
Ketika sang istri mulai membaca Surah Al-Baqarah setiap hari, perlahan terjadi perubahan. Suasana rumah menjadi lebih nyaman, pertengkaran dan perbedaan pendapat semakin berkurang, dan yang paling mengherankan, rezeki yang sebelumnya selalu kurang kini terasa cukup bahkan berlebih. Inilah keberkahan Al-Qur’an yang nyata dirasakan.
Surah Al-Baqarah membawa keberkahan bagi rumah yang dibacakan di dalamnya, sementara meninggalkannya akan menghadirkan penyesalan. Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang Allah berikan kepada Rasulullah ﷺ dan menjadi sumber ketenangan bagi siapa pun yang berinteraksi dengannya.
Jauh dari Al-Qur’an berarti jauh dari ketenangan, dan jarang membaca Al-Qur’an akan melahirkan kegelisahan, kesempitan, dan kepahitan hidup. Al-Qur’an adalah zikir kepada Allah, dan Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Karena itu, jangan pernah meninggalkan Al-Qur’an walau sehari, meskipun belum memahami maknanya sepenuhnya. Insya Allah, keberkahan dan perubahan besar akan hadir dalam hidup, dan semoga kita termasuk golongan ahli Al-Qur’an. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Para nabi terdahulu diberi mukjizat yang berlaku pada masanya, dan mukjizat itu berakhir seiring wafatnya para nabi tersebut. Berbeda dengan Nabi Muhammad ﷺ, mukjizat beliau tetap hidup hingga hari ini, yaitu Al-Qur’an.
Siapa pun yang berinteraksi dengan Al-Qur’an secara istiqomah dan ikhlas akan merasakan perbedaan nyata dalam hidupnya. Al-Qur’an penuh keberkahan: membacanya berkah, menghafalkannya berkah, memahami tafsirnya berkah, mengamalkannya berkah, dan mendakwahkannya pun berkah selama dilakukan dengan keikhlasan.
Kemuliaan Al-Qur’an tercermin pada kemuliaan waktu dan pembawanya: bulan paling mulia adalah Ramadan karena diturunkannya Al-Qur’an, malam paling mulia adalah malam turunnya Al-Qur’an, dan Nabi paling mulia adalah Nabi yang membawa Al-Qur’an.
Keberkahan Al-Qur’an mampu melapangkan kehidupan: rumah yang sempit terasa lapang, rezeki yang sedikit menjadi cukup, dan hati menjadi tenang. Sebaliknya, musibah terbesar adalah ketika seorang hamba jauh dari Al-Qur’an, bahkan satu hari tanpa membaca Al-Qur’an berarti terputus dari mukjizat yang dapat mengubah hidup.
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang sangat sibuk, namun tetap paling dekat dengan Al-Qur’an. Ini menjadi bukti bahwa tidak ada alasan untuk meninggalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu bersama Al-Qur’an: mencintainya, membacanya, memahaminya, mengamalkannya, dan mendakwahkannya dengan ikhlas dan istiqomah. Aamiin.
Ketidaktenangan hati, kegalauan, mudah marah, mudah tersinggung, dan rumitnya urusan hidup sering kali berakar dari kualitas shalat yang buruk. Shalat adalah penentu utama ketenangan jiwa, kualitas akhlak, dan terbukanya pertolongan Allah. Masalah besar justru muncul ketika salat dilakukan tanpa mutu.
Ciri-ciri shalat yang tidak bermutu antara lain:
shalat terasa berat dan menjadi beban, dilakukan karena riya atau dorongan orang lain, sering ditunda-tunda, dikerjakan tergesa-gesa tanpa tumakninah, sedikit mengingat Allah saat shalat, malas berjamaah, serta wudhu dan gerakan shalat yang asal-asalan.
Shalat yang buruk akan melahirkan kehidupan yang buruk, karena shalat adalah tiang agama sekaligus tiang akhlak. Oleh sebab itu, yang perlu diperbaiki bukan hanya kuantitas, tetapi juga kualitas shalat: kualitas waktu, persiapan, kekhusyukan, dan kesungguhan dalam bersujud kepada Allah.
Semakin berkualitas dan semakin banyak sujud seorang hamba, semakin dekat ia dengan Allah, semakin dicintai-Nya, dan semakin baik kondisi hatinya. Dengan salat yang baik, hati menjadi tenang, akhlak membaik, emosi dan syahwat lebih terkendali, serta keinginan duniawi menjadi terarah.
Shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, menghapus dosa-dosa kecil, dan menjadi pembuka pertolongan Allah. Maka sudah seharusnya salat tidak sekadar selesai dikerjakan, tetapi benar-benar menghadirkan perubahan. Jika salat diperbaiki, Insya Allah seluruh aspek kehidupan akan diperbaiki oleh Allah سبحانه وتعالى.
Orang yang mudah dekat dengan Allah adalah mereka yang mampu bermujahadah melawan hawa nafsunya. Shalat tahajud dicintai Allah karena pelakunya mengalahkan kenikmatan tidur demi bangun, berwudhu, dan bersujud kepada-Nya. Allah melihat perjuangan ini dan membalasnya dengan ganjaran yang besar.
Demikian pula orang yang shalat ke masjid, Allah mengetahui adanya usaha dan pengorbanan yang lebih dibandingkan salat di tempatnya. Setiap amal yang dilakukan dengan perjuangan melawan nafsu memiliki nilai yang lebih tinggi di sisi Allah.
Sedekah juga demikian. Ketika hawa nafsu ingin menumpuk dan menikmati harta, orang yang bersedekah memilih mengalahkan ego demi membahagiakan orang lain. Itulah sebabnya sedekah dicintai Allah.
Orang yang menahan amarah dijanjikan surga karena hawa nafsu mendorong untuk meluapkan kemarahan, namun ia memilih menahannya. Begitu pula orang yang memaafkan, disebut sebagai ahli takwa karena ia mengalahkan dorongan untuk membalas dendam.
Intinya, setiap amal yang bernilai tinggi di sisi Allah selalu beriringan dengan kemampuan mengendalikan hawa nafsu. Jika nafsu dikenali dan dikendalikan dengan baik, maka balasan dari Allah akan sangat besar. Semoga kita dilindungi dari tipu daya hawa nafsu dan dianugerahi akhlak serta amal yang diridhai-Nya. Aamiin.
Rasulullah ﷺ menyampaikan hadis qudsi bahwa Allah berfirman, “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku.” Ini menunjukkan betapa besar pengaruh prasangka seorang hamba kepada Allah terhadap apa yang ia alami dalam hidupnya.
Manusia diciptakan untuk beribadah, dan inti terdalam dari ibadah adalah husnuzan kepada Allah—berprasangka baik terhadap segala ketentuan-Nya. Allah Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya, dan apa yang terjadi dalam kehidupan sangat dipengaruhi oleh keyakinan serta prasangka yang tersimpan di dalam hati.
Orang yang senantiasa berbaik sangka kepada Allah akan mendapatkan kebaikan sesuai dengan prasangkanya, karena Allah mengetahui dan membalas keyakinan itu. Oleh karena itu, menjaga husnuzan kepada Allah bukan hanya sikap batin, tetapi merupakan pondasi utama ibadah.
Semoga Allah meneguhkan hati kita untuk selalu berprasangka baik kepada-Nya dan melindungi kita dari buruk sangka, karena di sanalah letak keselamatan dan ketenangan seorang hamba. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa ada dua sifat yang sangat dicintai Allah, yaitu Al-Hilm dan Al-Anah.
Al-Hilm adalah kemampuan menahan amarah dan tidak reaktif ketika menghadapi hal yang menyakitkan, menjengkelkan, atau mengecewakan.
Sedangkan Al-Anah adalah sikap tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, dengan pertimbangan yang matang dan penuh kebijaksanaan.
Lawan dari Al-Hilm adalah sifat pemarah, reaktif, dan dendam, sementara lawan dari Al-Anah adalah al-‘ajalah, yaitu sikap terburu-buru. Rasulullah ﷺ mencontohkan kedua sifat ini saat diuji di Thaif, ketika beliau disakiti namun tetap tenang, tidak membalas, bahkan mendoakan kebaikan.
Sikap tenang dan tidak tergesa-gesa akan melahirkan ketenangan jiwa, kewibawaan, kebijaksanaan, serta keputusan yang adil dan tepat. Banyak masalah manusia bermuara pada keinginan memuaskan hawa nafsu—baik dalam marah, syahwat, maupun keinginan duniawi—sehingga dua sifat ini harus menjadi target utama pembinaan diri.
Rasulullah ﷺ bersabda,
“At-ta’anni minallah wal-‘ajalah minasy-syaithan”(Ketenangan berasal dari Allah, dan tergesa-gesa berasal dari setan).
Untuk melatih Al-Hilm dan Al-Anah, dianjurkan memberi jeda sejenak sebelum bereaksi, menyadari bahwa semua terjadi atas izin Allah, berusaha ridha, segera beristighfar, berlindung dari godaan setan, dan bersyukur karena setiap ujian adalah ladang amal, taubat, dan peninggian derajat.
Sering kali kita terlalu sibuk mengurus dunia,
hingga lupa bahwa shalat adalah jalan untuk menata segalanya.
Padahal, justru dengan menjaga shalat,
Allah akan memudahkan urusan-urusan kita yang lainnya.
Dalam episode ini kita diajak merenung:
Mengapa kita menunda-nunda shalat demi urusan dunia,
padahal shalatlah yang bisa membuka jalan dunia?
Mengapa kita merasa tidak punya waktu untuk shalat,
padahal waktu adalah milik Allah yang memberi keberkahan?
Allah berfirman:
"Dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."
(QS. Al-‘Ankabut: 45)
Shalat bukan beban, tapi sumber kekuatan.
Bukan gangguan, tapi penyejuk hati.
Bukan penghambat kesuksesan, justru penentu keberkahan.
Utamakan shalatmu, maka Allah akan memudahkan urusanmu.
Simak lengkapnya dan temukan kembali arah hidup yang lurus.
Kita sering merasa gelisah, tak tenang, dan jauh dari kebahagiaan.
Padahal dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja.
Lalu apa yang sebenarnya membuat hati terasa sesak dan hidup terasa sengsara?
Dalam episode ini, kita diajak untuk melihat ke dalam diri:
Mungkinkah karena dosa yang belum disadari dan belum ditaubati?
Mungkinkah karena terlalu sibuk mengejar dunia, tapi lalai dari Allah?
Mungkinkah karena kita kurang yakin bahwa Allah yang paling tahu apa yang terbaik?
Allah berfirman:
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, baginya penghidupan yang sempit...”
(QS. Thaha: 124)
Hati yang gelisah seringkali bukan karena masalahnya,
tapi karena jauhnya kita dari Allah.
Bukan karena beban hidupnya terlalu berat,
tapi karena kita kurang bersandar kepada-Nya.
Simak selengkapnya untuk menemukan ketenangan yang sejati.
Bukan dari dunia, tapi dari kedekatan dengan-Nya.
Dalam hidup, kita sering ingin semuanya cepat selesai.
Cepat sukses, cepat menikah, cepat kaya, cepat keluar dari masalah.
Tapi sering kali, tergesa-gesa justru membuat kita salah langkah.
Nabi ﷺ bersabda:
“Ketenangan itu dari Allah, dan tergesa-gesa itu dari setan.”
(HR. Tirmidzi)
Dalam episode ini, kita diajak merenung:
Mengapa ketenangan adalah tanda hadirnya Allah dalam hati?
Apa dampaknya jika kita terus terburu-buru dalam mengambil keputusan?
Bagaimana cara menghadirkan sikap tenang dalam setiap urusan?
Tenang bukan berarti lambat,
tapi yakin dan percaya bahwa Allah sedang mengatur segalanya dengan sempurna.
Mari belajar tenang, sabar, dan tawakal.
Karena ketenangan adalah karunia yang akan menjaga kita dari kesalahan dan penyesalan.
Sering kali kita kecewa karena keinginan tak terpenuhi.
Padahal, apa yang kita inginkan belum tentu yang terbaik untuk kita.
Allah, Sang Maha Tahu, tidak selalu memberi apa yang kita mau.
Tapi selalu memberi apa yang kita butuh, untuk tumbuh dan kembali pada-Nya.
Dalam episode ini kita diajak merenung:
Apakah kita benar-benar yakin pada pilihan Allah?
Apakah kita lebih banyak protes daripada bersyukur?
Apakah kita sadar, banyak hal yang tidak kita minta… justru itulah yang menyelamatkan kita?
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 216)
Mari belajar ridha atas apa yang Allah pilihkan.
Karena tak semua yang kita inginkan, adalah yang benar-benar kita butuhkan.
Kita bisa sembunyi dari manusia.
Bisa menutupi kekurangan, menyembunyikan dosa, atau menyamarkan niat.
Tapi tidak di hadapan Allah.
Setiap bisikan hati, pikiran terlintas, bahkan niat yang belum diwujudkan…
Allah Maha Tahu.
Dalam episode ini, kita diajak menyadari:
Tidak ada yang bisa kita tutupi dari Allah.
Maka seharusnya kita lebih jujur dalam beramal, dalam niat, dan dalam tobat.
Kita bukan sedang berakting di hadapan manusia, tapi sedang diuji keikhlasannya oleh Allah.
"Sesungguhnya Allah mengetahui rahasia di langit dan bumi."
(QS. Al-Furqan: 6)
Mari hidup lebih jujur, lebih ikhlas, lebih sadar bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui segalanya.
Bukan untuk menakut-nakuti, tapi agar hati kita lebih bersih dan amal kita lebih diterima.
Kadang hidup terasa begitu berat…
Rezeki seret, pikiran mumet, masalah datang bertubi-tubi.
Sudah usaha sana-sini, tapi tetap saja buntu.
Tapi, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya:
"Apa yang sebenarnya Allah ingin ajarkan melalui semua ini?"
Dalam episode ini kita diajak merenung:
Apakah selama ini kita terlalu sibuk mengandalkan diri sendiri, lupa bergantung pada Allah?
Apakah kita sudah menjaga salat, istighfar, dan doa secara sungguh-sungguh?
Apakah masalah yang kita hadapi adalah tanda bahwa hati kita perlu dibersihkan?
"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka."
(QS. At-Thalaq: 2-3)
Bisa jadi, solusinya bukan terletak pada cara, tapi pada hati.
Ayo kita luruskan niat, perbaiki amal, dan dekatkan diri kepada Allah.
Karena ketenangan, keberkahan, dan solusi sejati datangnya dari-Nya.
Ilmu adalah cahaya, dan adab adalah syarat agar cahaya itu masuk ke hati.
Dalam Islam, menuntut ilmu bukan sekadar mencari pengetahuan, tapi juga proses mendekat kepada Allah dengan penuh etika dan tata krama.
Dalam episode ini, kita diajak mengingat kembali adab-adab penting dalam menuntut ilmu, seperti:
Meluruskan niat, bahwa ilmu dicari karena Allah, bukan untuk popularitas atau perdebatan.
Merendahkan hati, karena sombong adalah penghalang terbesar ilmu.
Menghormati guru, sebagai perantara sampainya cahaya kebenaran.
Menjaga adab dalam majelis, tidak menyela, tidak sibuk sendiri, dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
Mengamalkan ilmu, karena ilmu yang tidak diamalkan bisa menjadi hujjah yang memberatkan.
"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga."
(HR. Muslim)
Semoga dari episode ini kita semakin semangat mencari ilmu, bukan hanya dengan akal, tapi juga dengan hati dan adab yang baik.
Berbicara adalah ibadah, jika dilakukan dengan benar.
Namun, bisa jadi sumber dosa jika sembarangan.
Karena itu, penting bagi setiap muslim memperhatikan adab dan etika berbicara.
Dalam episode ini kita diingatkan untuk:
Berpikir sebelum bicara: Apakah ucapanku membawa manfaat?
Menjaga kejujuran: Jangan sampai lisan kita ringan berdusta.
Menghindari ghibah, fitnah, dan ucapan kasar
Menyesuaikan ucapan dengan kondisi dan audiens
Berbicara dengan niat yang baik, bukan sekadar ingin didengar atau membanggakan diri.
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga dari episode ini kita belajar bahwa berbicara bukan soal lidah,
tapi soal hati dan tanggung jawab di hadapan Allah.
Mari jaga lisan, demi keselamatan dunia dan akhirat.
Lisan adalah amanah.
Satu kata bisa mengangkat derajat,
tapi satu ucapan juga bisa menjerumuskan ke neraka.
Maka, jagalah lisan dari lima hal ini:
Dusta, Zalim, Kasar, Kotor, dan Perkataan Sia-sia.
Sebab kelima hal ini adalah penyakit lisan yang dapat merusak iman, memperkeruh hati, dan menciptakan dosa yang terus mengalir.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Latih diri untuk berbicara jujur, adil, lembut, bersih, dan bermanfaat.
Karena setiap ucapan kita akan ditulis oleh malaikat dan dimintai pertanggungjawabannya kelak.
Simak kajiannya dalam episode ini.
Semoga menjadi bekal untuk menjaga lisan, dan menata hati.
Tidak semua kebaikan terasa ringan di awal.
Kadang harus dipaksa dulu, baru terbiasa.
Bangun pagi untuk shalat, menahan amarah, menjaga lisan, bersedekah saat sempit—
semuanya tidak mudah. Tapi bukan berarti tidak bisa.
Justru dalam keterpaksaan awal itulah,
keimanan sedang dilatih.
Semakin sering kita paksa diri untuk taat,
semakin kuat jiwa kita menolak kemaksiatan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai,
sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat."
(HR. Bukhari & Muslim)
Jangan tunggu ikhlas untuk mulai berbuat baik.
Tapi berbuat baiklah, nanti akan terasa ikhlas.
Karena iman itu tumbuh dalam perjuangan.
Yuk, kita latih diri—karena hati yang istiqamah dimulai dari niat dan paksaan yang istiqamah.
Simak inspirasinya selengkapnya dalam episode ini.
Amalan yang tampak besar, belum tentu bernilai besar di sisi Allah.
Begitu pun amalan kecil, bisa bernilai luar biasa—jika niatnya benar.
Dalam Islam, niat adalah ruh ibadah.
Tanpa niat yang ikhlas karena Allah, amal bisa kosong dari keberkahan.
Sebaliknya, dengan niat yang tulus,
bahkan senyuman, sedekah kecil, atau langkah ke masjid
menjadi amal yang besar di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya,
dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya..."
(HR. Bukhari & Muslim)
Di episode ini, mari kita belajar kembali tentang pentingnya niat,
dan bagaimana meluruskannya di tengah aktivitas yang padat,
agar amalan kita bernilai ibadah,
dan dihitung sebagai bekal terbaik untuk akhirat.
Simak selengkapnya dan ajak hati kita untuk ikhlas kembali.
Setiap tarikan napas kita adalah nikmat.
Setiap detak jantung, setiap senyum, setiap kesempatan bertobat—semuanya adalah anugerah.
Tapi seringkali, kita lupa.
Lupa bersyukur.
Lupa merenung.
Lupa bahwa semua ini bisa dicabut kapan saja.
"فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ"
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
(Surat Ar-Rahman)
Ayat ini berulang, karena manusia memang sering lupa.
Padahal, syukur adalah kunci dilipatgandakannya nikmat.
Dan kufur nikmat, adalah jalan tercepat menuju penyesalan.
Mari merenung bersama.
Agar tak sibuk mengejar nikmat yang belum ada,
sampai lupa mensyukuri nikmat yang sudah begitu banyak Allah beri.
Simak renungan selengkapnya dalam episode ini.
Mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.
Apa yang tampak dari saudaranya, bisa jadi teguran bagi dirinya.
Dalam hidup ini, kita sering melihat kekurangan orang lain…
Tapi seharusnya, hati kita lebih peka untuk bercermin:
Apakah aku juga punya kekurangan seperti itu?
Sudahkah aku memperbaiki diriku sebelum menegur orang lain?
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain.”
(HR. Abu Dawud)
Cermin tak pernah berbohong.
Ia jujur, walau kadang menyakitkan.
Dan seorang mukmin sejati…
adalah yang mampu menjadikan nasihat dan peringatan sebagai bahan perbaikan diri, bukan sekadar bahan celaan.
Yuk, simak renungannya dalam episode kali ini.
Karena setiap pertemuan adalah pelajaran,
dan setiap mukmin… adalah cermin kehidupan.
Marah itu manusiawi.
Tapi menahan amarah karena Allah… itu luar biasa.
Nabi ﷺ bersabda:
"Siapa yang menahan amarah padahal ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan makhluk-Nya pada hari kiamat dan mempersilahkannya memilih bidadari surga yang ia kehendaki."
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Dalam episode ini, kita diajak merenung:
Apa yang terjadi jika setiap amarah tak langsung dilampiaskan?
Bagaimana kekuatan menahan emosi bisa menjadi jalan menuju surga?
Karena bukan kekuatan fisik yang paling hebat,
melainkan kekuatan jiwa yang mampu mengendalikan diri di saat marah.
Yuk belajar sabar.
Belajar menunda reaksi.
Karena di balik kesabaran itu, ada surga yang dijanjikan.