Medsos tak lagi sekadar soal hiburan, di balik algoritma dan konten instan, tersembunyi ancaman cognitive decay yang perlahan menggerogoti fondasi intelektual.
Apakah ketidakpastian global justru menjadi senjata paling efektif dalam mencegah konflik besar di Taiwan? Di balik dilema “lampu hijau” dan “lampu merah”, ambiguitas strategis bisa jadi faktor penentu yang membuat setiap langkah terasa terlalu berisiko untuk diambil.
Investasi negara tak lagi diam di neraca. Di tangan Rosan Roeslani sebagai CEO, Danantara bergerak dari krisis pascabencana, hilirisasi raksasa Rp100 triliun, hingga Kampung Haji di Mekkah. Modal negara berubah: lincah, berdaulat, dan sarat tujuan publik, menjadi mesin kebijakan dalam statecraft Indonesia kontemporer yang baru dan menentukan.
Dalam trilogi The Lord of the Rings, J.R.R. Tolkien menciptakan The Shire—sebuah kampung halaman bagi para Hobbit yang hidup sederhana, berkebun, minum bir, dan tidak punya ambisi menaklukkan dunia. Layakkah menyamakan para Hobbit ini dengan orang Indonesia?
Tayangan Doraemon resmi dihentikan di TV nasional. Apakah ini pertanda kita harus berhenti berharap pada “jalan pintas” politik ala Gibran?
Pabrik VinFast baru diresmikan, langsung didemo. Sementara Nenek Elina digusur dari rumahnya sendiri. Di balik dua kejadian ini terbentang paradoks kekuasaan yang membahayakan: negara telah kehilangan monopoli atas kekerasan, dan ormas mengisi kekosongan itu dengan ekonomi upeti abad pertengahan.
Ketika kritik lewat tawa dianggap otomatis benar, di situlah masalah bermula. Lawakan Pandji Pragiwaksono memantik refleksi: sejauh mana humor politik efektif tanpa mengorbankan empati, etika, dan tanggung jawab simbolik di ruang publik yang kian sensitif.
Negara menyita jutaan hektare lahan dan menyerahkannya ke Agrinas. Apakah ini sekadar kebijakan ekonomi atau strategi baru di bawah Prabowo?
Di tengah sorotan pada konglomerat paling kaya, ada kekuatan ekonomi yang bekerja lebih senyap namun jauh lebih struktural. Anthoni Salim menunjukkan bahwa pengaruh tak selalu soal angka, melainkan seberapa dalam ia hadir di kehidupan sehari-hari.
Dalam era presidensialisme kuat Prabowo, otoritas tak lagi sekadar soal pangkat dan senioritas. Ketika kepercayaan Presiden menjadi pusat legitimasi, relasi Jenderal–Letkol membuka satu pertanyaan penting: sedangkah otoritas formal mengalami gerhana yang justru konstruktif?
Pernyataan PM Jepang Sanae Takaichi membuat tensi Taiwan memanas. Saatnya Prabowo mencegah krisis besar?
Apakah menguatnya Kejagung menandai babak baru pemberantasan korupsi di Indonesia? Mungkin ini bukan soal siapa menang—melainkan bagaimana sistem hukum kita sedang berevolusi.
Gelar “Gus” kian diperebutkan dan dipertontonkan, bergeser dari warisan pesantren menjadi modal simbolik yang dikomodifikasi. Kontroversi oknum memicu sentimen terhadap NU, sementara perebutan status, ekonomi, dan politik mengancam makna autentiknya di tengah arus digital dan pasar spiritual modern.
Dalam langkah yang mencengangkan, Presiden Prabowo Subianto membatalkan kehadirannya di KTT G-20 Afrika Selatan—forum pemimpin dunia yang prestigius—demi konsolidasi basis politik domestik, meski dengan bahasa soal “adanya agenda lain”. Keputusan ini bukan tanpa alasan.
Beberapa pihak menilai di balik pembatalan tersebut, terdapat kalkulasi politik yang mendalam tentang ancaman nyata dari kelompok-kelompok yang merasa dirugikan oleh kebijakan penertiban yang agresif.
Tahun 2026 diprediksi menjadi gerbang menuju abad kekacauan global. Apakah ini ancaman nyata atau sekadar bisnis rasa takut para elite?
Wacana Pilkada via DPRD kembali menguji demokrasi. PDIP menolak, tapi jejak 2018 menyisakan tanda tanya. Apakah ini sikap prinsipil, strategi oposisi, atau sekadar “jastip suara”? Ketika suara rakyat dititipkan, siapa yang benar-benar memegang kendali?
Kekuatan Tiongkok bukan cuma teknologi atau militer, tapi stabilitas harga pangan. Dari Vegetable Basket Program, kubis menjelma kekuatan geopolitik.
Sekolah kedinasan kerap dipandang sebagai pusat meritokrasi, namun mobilitas alumninya ke jabatan lintas-instansi memicu perdebatan tentang konflik kepentingan, profesionalisme, “garis tangan”, hingga faktor politis.
Banjir bandang merusak Sumatra hanya dalam hitungan hari. Berapa lama perkiraan daerah terkena bencana bisa pulih kembali?
Bukan soal uang negara, tapi soal satu tepukan bahu Presiden. Gestur Prabowo ke Purbaya dan Raja Juli dibaca berbeda: satu menguatkan, satu justru menguji. Di politik, dipukpuk tak selalu berarti diangkat. Kadang, itu peringatan halus.