✨ Sajak Kini – “Tentang Menata Diri di Tengah Hidup yang Berantakan”Ada hari-hari ketika hidup terasa kacau:keuangan seret, pikiran penuh, kamar berantakan,dan kita pun tidak yakin sedang menuju ke mana.Tapi entah bagaimana, kita tetap bangun,tetap bergerak, tetap mencoba menjalani hari.Episode ini mengingatkan:dewasa bukan soal hidup yang rapi,tapi berani melangkah meski semua sedang berantakan.Kadang merapikan satu piring, mandi tepat waktu,atau sekadar menarik napas dalam—itu sudah cukup.Tidak apa kalau kamu belum stabil.Tidak apa kalau kamu masih bingung.Pelan-pelan saja, karena setiap langkah keciladalah bentuk keberanian yang jarang kamu akui.🎧 Dengarkan,Sajak Kini – “Tentang Menata Diri di Tengah Hidup yang Berantakan.”✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari 🎙️ Pengisi Suara : Rizqa Fajria
✨ Sajak Kini hadir lagi — episode terbaru:“Mantan di Timeline: Unfollow atau Bertahan?”Di zaman sekarang, putus cinta tidak selalu berarti benar-benar berpisah.Kadang ia tetap muncul di timeline, lewat story, lewat like kecil yang bikin hati goyah tanpa izin. Kita bilang ini silaturahmi… tapi sering kali, itu cuma cara halus untuk tetap dekat dengan masa lalu.Media sosial membuat segalanya samar:antara dewasa dan masih berharap,antara ikhlas dan pura-pura kuat,antara follow demi “baik-baik saja” atau follow karena belum sepenuhnya rela.Kadang, keberanian bukan melanjutkan hubungan digital itu—tapi berani menekan tombol unfollow,bukan untuk membenci,tapi untuk menyelamatkan diri sendiri.Episode ini untuk kamu yang masih menyimpan mantan di timeline,yang masih bergulat antara unfollow atau bertahan,yang ingin tegar tapi diam-diam masih goyah.Semoga sajak ini menjadi pengingat halus: bahwa melepaskan bukan tanda lemah —tetapi tanda bahwa kamu memilih dirimu sendiri.🎧 Dengarkan episode lengkap “Mantan di Timeline: Unfollow atau Bertahan?”✍️ Penulis: Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara: Sofie Aryati
✨ Sajak Kini hadir dengan episode terbaru:
“Cinta atau Mimpi? – Apakah Cinta Bisa Menunggu?”
Di usia muda, kita sering berdiri di dua dunia:
antara cinta yang ingin dijaga,
dan mimpi yang ingin dikejar.
Ada waktu yang terbagi, jarak yang memisah,
dan prioritas yang membuat hati harus belajar memilih—
atau setidaknya, bertahan.
Episode ini mengajak kita merenung:
benarkah cinta bisa menunggu sampai kita sukses?
Atau justru cinta adalah bagian dari perjalanan itu sendiri?
Karena dalam hidup,
cinta membuat hati hangat,
tapi mimpi membuat langkah tetap menyala.
Keduanya indah—
tapi tidak selalu berjalan berdampingan.
Di sini kita belajar tentang pilihan,
tentang pengorbanan,
tentang tanggal penting yang terlewat
dan pesan yang tak sempat dibalas.
Tentang cinta yang ingin diprioritaskan,
dan mimpi yang menuntut untuk terus dikejar.
Mungkin jawabannya bukan memilih,
tapi menemukan keseimbangan.
Cinta yang tidak menahan,
melainkan menguatkan.
Mimpi yang tidak menjauhkan,
melainkan memberi arah.
🎧 Dengarkan dan resapi,
Sajak Kini – “Cinta atau Mimpi? – Apakah Cinta Bisa Menunggu?”
Untuk kamu yang sedang berdiri di persimpangan,
mencari arti cinta yang tetap setia,
meski langkahmu menuju masa depan masih panjang.
✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara : Khairun Nisa
✨ Sajak Kini hadir dengan episode terbaru:
“Tentang Lelah yang Tidak Pernah Kita Akui”
Kita hidup dalam dunia yang menganggap kesibukan sebagai kebanggaan dan membuat kita malu untuk mengakui bahwa kita tidak sanggup. Ada lelah yang tidak membuat tubuh roboh, tapi membuat hati perlahan kehilangan cahaya.
Episode ini mengajak kita merenung:
Apakah kita sudah memberi ruang untuk diri beristirahat? Atau kita hanya takut kelihatan rapuh?
Karena lelah paling berbahaya bukanlah yang terasa di tubuh, tapi yang diam di dalam pikiran—lelah yang muncul saat kita memaksa tersenyum, atau bilang "nggak apa-apa kok" padahal hati sudah penuh beban.
Di sini kita belajar tentang keberanian untuk berhenti sebentar, tentang mematikan notifikasi, dan menjauh dari kerumunan.
Mungkin jawabannya bukan terus memaksa kuat,
tapi menemukan keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Istirahat bukan dosa. Istirahat adalah cara sederhana untuk kembali mengenali diri.
🎧 Dengarkan dan resapi,
Sajak Kini – “Tentang Lelah yang Tidak Pernah Kita Akui”
Untuk kamu yang sedang merasa berat dan lelah menahan dunia, kamu layak merasa ringan lagi.
✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara : Sofie Aryati
✨ Sajak Kini hadir dengan episode terbaru:
“HTS: Cinta yang Tinggal di Ruang Abu-Abu.”
Bagaimana rasanya mencintai tanpa kepastian—
menunggu tanpa tahu ditunggu,
merindukan tanpa pernah benar-benar diakui?
Hubungan yang hangat seperti rumah,
tapi dingin seperti kamar kosong
saat pertanyaan “kita ini apa?”
tak pernah berani diucap.
Episode ini menyelami cinta yang hidup di batas tipis:
antara teman dekat, situationship,
dan pasangan yang tak pernah diberi nama.
Tentang rindu yang ditahan, cemburu yang disembunyikan,
dan hati yang pelan-pelan letih
karena terlalu lama tinggal di ruang abu-abu.
Karena kadang,
luka paling perih bukan ditinggalkan—
tapi tidak pernah benar-benar digenggam.
🎧 Dengarkan dan resapi,
Sajak Kini – “HTS: Cinta yang Tinggal di Ruang Abu-Abu.”
Untuk kamu yang sedang bertahan,
atau sedang belajar berani menyelamatkan hati sendiri.
✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara : Khairun Nisa
✨ Sajak Kini hadir dengan episode terbaru:
“Chat Balas Lama, Story Update Cepat.”
Tentang rasa yang diam-diam patah,
saat menunggu pesan yang tak kunjung dibalas—
sementara ia sibuk tertawa di story,
membalas komentar orang lain,
seolah semuanya baik-baik saja.
Episode ini bercerita tentang rasa insecure yang tumbuh pelan-pelan,
tentang menunggu yang melelahkan,
dan pertanyaan yang tak pernah berani diucap:
“Apa aku benar-benar penting baginya?”
Karena kadang, yang menyakitkan bukan perpisahan,
tapi diam yang panjang.
Chat dibaca, tak dibalas.
Story update cepat, tapi perhatian hilang entah ke mana.
Lewat bait-bait puitis,
episode ini mengajakmu memahami bahwa
kamu berhak dicintai dengan jelas—
bukan digantung dalam notifikasi yang tak kunjung menyala.
Dan jika akhirnya kamu berhenti menunggu,
itu bukan tanda menyerah,
tapi bukti bahwa kamu tahu:
yang tulus tak pernah membuatmu merasa sendirian.
🎧 Dengarkan, resapi, dan lepaskan.
Sajak Kini – “Chat Balas Lama, Story Update Cepat.”
✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara : Sofie Aryati
✨ Sajak Kini hadir dengan episode terbaru:
“Love Language di Balik Layar: Cinta di Era Chat & DM.”
Cinta kini hidup lewat layar —
dikirim dalam emoji, pesan singkat, dan tanda biru.
Kadang “jaga diri ya” terasa lebih hangat dari pelukan,
tapi kadang “hehe” justru terasa paling dingin.
Episode ini bercerita tentang cara baru kita mencintai:
menunggu balasan, menafsirkan emoji,
dan mencari makna di balik pesan yang tak selesai.
Karena di era digital,
bahasa cinta bukan soal panjangnya kata,
tapi kesungguhan yang tetap terasa —
meski lewat layar.
🎧 Dengarkan dan rasakan,
Sajak Kini – “Love Language di Balik Layar.”
Untuk kamu yang masih percaya,
bahwa cinta tetap nyata, bahkan di dunia digital.
✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara : Khairun Nisa
✨ Sajak Kini hadir dengan episode terbaru: “Ghosting: Luka yang Tak Pernah Dijelaskan.”
Sebuah episode yang menyelami sunyi paling dalam—tentang kehilangan tanpa perpisahan, tentang seseorang yang pergi tanpa jejak, dan tentang luka yang tak pernah sempat dijelaskan.
Episode ini berbicara pada mereka yang pernah menunggu pesan yang tak kunjung dibalas, memandangi layar ponsel yang terus sepi, dan bertanya-tanya tanpa jawaban: apa yang sebenarnya terjadi?
Lewat bait-bait puitis, “Ghosting: Luka yang Tak Pernah Dijelaskan” mencoba memeluk perasaan itu—rasa bingung, kecewa, dan hampa yang datang bukan karena perpisahan, tapi karena ketidakjelasan.
Untuk kamu yang:
Pernah ditinggalkan tanpa pamit.
Masih menyalahkan diri sendiri atas sesuatu yang tak pernah dijelaskan.
Belum tahu bagaimana caranya menutup bab yang tak pernah benar-benar selesai.
Episode ini mengingatkan,
bahwa tidak semua kehilangan harus kamu mengerti.Kadang, diamnya seseorang bukan karena kamu kurang,tapi karena mereka memilih jalan paling mudah—menghilang.
🖤Kalau kamu sedang memeluk luka yang tak bernama,semoga episode ini bisa menjadi ruang untuk menenangkan diri.Bahwa kamu pantas mendapat penjelasan,dan pantas untuk sembuh—meski tanpa kata-kata terakhir.
🎧 Dengarkan, resapi, dan biarkan kata-kata ini membantu kamu melepaskan yang tak bisa dijelaskan.
✍️ Penulis: Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara: Sofie Aryati
✨ Sajak Kini hadir lagi — dengan episode terbaru:
“Sebelum Ibu Pergi.”
Ada cinta yang tak pernah lekang oleh waktu.
Bukan cinta yang megah,
tapi cinta sederhana —
yang hadir lewat suapan nasi, lipatan baju, dan doa yang tak bersuara.
Ia tumbuh hanya berdua bersama ibunya,
di rumah kecil yang tak mewah,
tapi selalu hangat oleh pelukan dan sabar.
Hingga suatu hari, waktu memisahkan mereka.
Dan satu telepon sore itu, mengubah segalanya:
“Ibumu sakit. Parah.”
Ia pulang dengan doa yang terbata,
mengejar waktu yang tak mau menunggu.
Dan di penghujung napasnya,
sang ibu tersenyum — sambil menyerahkan sebuah cincin kecil:
“Nak… kalau nanti kamu melamar perempuan yang kamu cinta,
pakai cincin ini, ya.
Tapi jangan cari yang sama,
karena Ibu cuma satu.”
Kini, cincin itu tersimpan rapi di laci meja,
bersama rindu yang tak pernah selesai.
Karena kehilangan ibu,
bukan sekadar kehilangan seseorang,
tapi kehilangan rumah.
Episode ini untuk kamu
yang pernah merindukan suara ibu,
aroma masakannya,
atau sekadar pelukannya di hari-hari berat.
Lewat sajak ini, Sajak Kini mengajakmu mengingat —
bahwa cinta seorang ibu tak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya berganti wujud,
menjadi doa yang selalu menyertai setiap langkahmu. 🕊️
🎧 Dengarkan episode terbaru “Sebelum Ibu Pergi.”
✍️ Penulis: Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara: Sofie Aryati
✨ Sajak Kini hadir lagi — dengan episode terbaru:
“Self-Healing vs Self-Burning: Saat Istirahat Pun Jadi Lelah.”
Kita sering mendengar kata healing di mana-mana.
Ada yang healing ke Bali, ke gunung, ke coffee shop dengan playlist indie dan jendela besar.
Tapi lucunya, sampai di sana pun… kepala tetap berisik.
Dan saat pulang, tagihan menunggu — lebih galak dari burnout itu sendiri.
Kita hidup di zaman yang katanya sadar kesehatan mental,
tapi jarang diberi ruang untuk benar-benar bernapas.
Dikasih saran, “journaling, meditasi, staycation,”
padahal yang dibutuhkan kadang cuma satu: pengertian.
Gaji yang cukup. Atasan yang manusiawi.
Dan lingkungan yang nggak selalu menuntut kita terlihat kuat setiap hari.
Kadang kita bingung —
apakah self-care ini bentuk cinta pada diri sendiri,
atau cuma cara agar bisa kerja lagi besok pagi.
Episode ini untuk kamu yang pernah merasa bersalah karena tidak produktif,
yang capek tapi tetap memaksa tersenyum,
yang merasa istirahat pun butuh keberanian.
Lewat sajak ini, Sajak Kini mengajakmu berhenti sejenak,
menyadari bahwa merawat diri nggak harus terlihat,
dan sembuh… nggak harus mahal.
Kalau hari ini kamu masih bertahan, meski isi kepala berantakan dan dompet tipis,
aku ingin bilang: kamu sedang berjuang.
Dan itu — sudah cukup.
Karena healing sejatinya bukan destinasi,
tapi proses.
Dan kamu,
sedang menjalaninya dengan baik. 🖤
🎧 Dengarkan episode terbaru “Self-Healing vs Self-Burning: Saat Istirahat Pun Jadi Lelah.”
✍️ Penulis: Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara: Sofie Aryati
✨ Sajak Kini hadir lagi dengan episode terbaru: “Produktif Katanya Bahagia, Tapi Kok Sesak?”
Ini adalah obrolan dalam bentuk sajak tentang hal yang sering kita alami diam-diam: hidup yang sibuk, tapi hati terasa kosong. Tentang bagaimana kita tumbuh dengan tuntutan untuk selalu produktif, selalu berlari, sampai lupa caranya berhenti dan merasa cukup.
Lewat bait-bait sederhana, episode ini menemani kamu yang:
* Bangun pagi bukan karena segar, tapi karena gelisah.
* Merasa bersalah saat istirahat, seakan diam itu dosa.
* Sibuk mengejar pencapaian, tapi malah kehilangan diri sendiri.
Karena kadang, bahagia itu bukan soal seberapa banyak yang kita capai,
tapi seberapa berani kita jujur pada diri sendiri: bahwa lelah itu manusiawi, dan berhenti sejenak bukan berarti kalah.
Kalau hari ini kamu merasa sesak, semoga episode ini bisa jadi pengingat:
kamu nggak harus hebat setiap hari.
Cukup bernapas, cukup bertahan, itu pun sudah luar biasa. 🖤
🎧 Dengarkan, resapi, dan semoga kamu menemukan tenang di dalam kata-kata ini.
✍️ Penulis: Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara: Khairun Nisa
Sajak Kini hadir lagi dengan episode terbaru: "Teman Dewasa: Datang Tak Sering, Tapi Selalu Kita Tunggu."
Ini adalah obrolan dalam bentuk sajak tentang sesuatu yang mungkin sedang kamu rasakan—kesepian di usia produktif, kehilangan teman lama, dan betapa sulitnya menemukan koneksi yang benar-benar tulus saat dewasa.
Lewat bait-bait sederhana, episode ini menemani kamu yang:
Karena teman dewasa itu memang jarang, tapi bukan berarti tak ada. Mereka mungkin tidak hadir setiap hari, tapi ketika datang, dunia jadi sedikit lebih ringan.
Kalau hari ini kamu merasa sendiri, semoga episode ini bisa jadi pengingat bahwa hatimu masih mungkin dipertemukan dengan teman yang tulus. Dan sampai hari itu tiba—ingatlah: kamu berharga, dan kamu tidak sendirian.
🎧 Dengarkan, resapi, dan semoga menemukan dirimu di dalam kata-kata ini.
✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara : Nadiah Riska Amelia
Kadang mimpi itu bukan tentang seberapa cepat kita mencapainya,
tapi seberapa berani kita menjaganya tetap hidup.
Bukan berarti kita gagal hanya karena sekarang bekerja demi tagihan,
atau masih mencari arah di tengah jalan yang panjang.
Setiap langkah kecil, setiap pagi yang kita hadapi meski berat—
itu bukti bahwa kita masih bertahan, masih berjuang.
Karena mimpi tak pernah mati,
ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kita sambut lagi.
🎧 Sajak Kini : Mimpiku Belum Mati, Aku Cuma Lagi Kerja Dulu
Menemani kamu yang sedang berusaha, pelan-pelan menemukan jalannya.
✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara : Sofie Aryati
Kita sering merasa lelah bukan karena terlalu banyak berjalan,
tapi karena lupa berhenti sebentar.
Kadang kita butuh diam,
butuh hening,
untuk sekadar ingat bahwa diri ini juga pantas dicintai.
🎧 Sajak Kini : Kita Nggak Lelah Sendirian, Cuma Lupa Istirahat
Karena rehat bukan tanda kalah—
tapi bentuk cinta untuk diri yang terlalu sering dipaksa kuat.
Penulis : Ahmad Tri Hawaari @ahmadtrihawaari
Pengisi Suara : Khairun Nisa @icaa1601
Kadang sahabat itu bukan yang selalu ada di foto,
bukan juga yang sering kita pamerkan ke dunia.
Mereka hadir diam-diam, dengan cara sederhana:
satu pesan singkat, satu duduk diam di sebelah kita,
atau sekadar meme receh yang bisa bikin kita tersenyum di tengah hari yang berat.
Sahabat sejati tahu versi terbaik dan terburuk kita,
tapi tetap memilih tinggal.
Mereka tak menuntut kabar setiap hari,
tak tersinggung kalau kita menghilang sebentar.
Mereka tahu—kadang luka butuh ruang,
dan beberapa cerita memang tak bisa langsung diucapkan.
Dan kalau kamu hari ini merasa sendiri,
coba buka chat lama.
Mungkin masih ada seseorang yang diam-diam menunggu kabarmu,
bukan karena penasaran,
tapi karena sayang.
🎧Sajak Kini : Sahabat Tempat Parah Yang Tak Pernah Bertanya Kenapa - Karena punya satu orang saja
yang rela duduk diam di sebelahmu tanpa perlu alasan—
itu sudah lebih dari cukup.
Penulis : Ahmad Tri Hawaari
Pengisi Suara : Sofie Aryati
Kadang kita bangun pagi bukan dengan semangat,tapi dengan jeda panjang sebelum beranjak dari tempat tidur.Bukan karena manja,tapi karena lelah yang sudah terlalu lama mengendap.
Di dunia yang menuntut kita selalu positif,mengakui kesedihan sering terasa seperti dosa.Seolah kalau kita sedih,artinya kita gagal jadi manusia kuat.
🎧 Sajak Kini: Maaf, Hari Ini Aku Nggak Bisa Kuat DuluSebuah ruang untuk berhenti sebentar,jujur sama perasaan sendiri,dan ingat… lelahmu valid.
Penulis: Ahmad Tri Hawaari
Suara: Khairun Nisa
Ada beban yang datang bukan karena kita minta,
tapi karena kita lahir lebih dulu.
Anak sulung katanya harus kuat, harus jadi contoh.
Tapi… siapa yang jadi tempat pulang si anak sulung?
Kita kerja bukan cuma buat diri sendiri.
Ada nama-nama yang harus diprioritaskan sebelum keinginan pribadi.
Kadang mimpi kita sendiri harus disimpan rapat di rak paling belakang.
Dan meski mulut bilang “gue kuat kok”, hati tahu—
nggak setiap hari bisa sekuat itu.
🎧 Sajak Kini: Sandwich Generation — Nanggung Hidup Sendiri, Nanggung Keluarga Juga
Sebuah ruang untuk mengakui lelah,
dan mengingatkan… kamu juga pantas dijaga.
Penulis : Ahmad Tri Hawaari
Pengisi Suara : Sofie Aryati
Ada masa di hidup kita ketika gaji terasa terlalu kecil untuk hidup… tapi terlalu besar untuk menyerah.
Bukan karena malas, tapi karena lelah yang belum sempat sembuh sejak kemarin.
Di usia yang katanya penuh petualangan, kita malah sibuk menghitung: “Kalau beli kopi hari ini, masih bisa isi bensin lusa nggak ya?”
Kita bertahan, diam-diam.
Menahan kekhawatiran, pura-pura senyum, pura-pura cukup.
Dan kalau kamu masih bisa hidup, bekerja, dan bercanda di tengah semua ini—itu bukan sekadar optimisme. Itu cinta.
🎧 Sajak Kini: UMR & Mimpi yang Tertahan — Hidup, Nabung, atau Nafas Dulu?
Sebuah ruang untuk mengakui lelah, tapi juga mengingatkan… kita masih punya mimpi.
Penulis: Ahmad Tri Hawaari
Pengisi Suara: Sintiya Setiawan
Kadang hidup di usia segini terasa seperti lomba yang kita nggak pernah mendaftar.
Orang lain sudah melesat jauh,
sementara kita masih meyakinkan diri kalau semua baik-baik saja.
Bukan karena malas atau kurang usaha,
tapi karena jalan kita memang berbeda.
Episode ini untuk kamu yang merasa tertinggal,
tapi tetap berjalan meski sendirian.
Untuk mengingatkan… kamu nggak salah,
dan kamu sudah cukup—lebih dari cukup.
🎧 Dengarkan sekarang, dan semoga setelahnya kamu bisa bilang pada diri sendiri:
"Aku selamat… dan itu lebih dari cukup."
Penulis: Ahmad Tri Hawaari
Pengisi Suara : Nadiah Riska Amelia
Di masa ketika perkenalan dimulai dari swipe, dan perpisahan hanya butuh diam…
Kita belajar mencintai dalam ketidakpastian,
menunggu kepastian dari notifikasi yang makin jarang datang.
Hubungan tidak lagi dibangun dari tatap mata dan percakapan panjang,
tapi dari typing bubbles yang hilang sebelum sempat terkirim.
Di episode ini, kita bicara tentang cinta yang tumbuh dari algoritma,
tentang luka yang datang dari istilah-istilah baru: ghosting, breadcrumbing, situationship.
Tentang keberanian untuk tetap berharap,
meski berkali-kali dikecewakan tanpa kata pamit.
Untuk kamu yang pernah merasa "terlalu berharap" atau "terlalu cepat merasa"...
Mungkin bukan kamu yang berlebihan.
Mungkin kamu hanya ingin sesuatu yang jelas… dan itu tidak salah.
🎧 Dengarkan Sajak Kini – Swipe, Chat, Hilang
Karena di balik layar, ada banyak hati yang sebenarnya cuma ingin dicintai… dengan jujur.
Penulis : Ahmad Tri Hawaari
Pengisi Suara : Sofie Aryati