Home
Categories
EXPLORE
True Crime
Comedy
Society & Culture
Business
Sports
History
Technology
About Us
Contact Us
Copyright
© 2024 PodJoint
00:00 / 00:00
Sign in

or

Don't have an account?
Sign up
Forgot password
https://is1-ssl.mzstatic.com/image/thumb/Podcasts123/v4/99/7e/60/997e6046-842e-57f2-4cbe-7c13cf3272de/mza_13214202776610926335.jpg/600x600bb.jpg
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Media La Porta
3867 episodes
10 hours ago
Renungan harian katolik yang ditulis oleh Pastur Peter Tukan SDB. Diupdate setiap harinya.
Show more...
Christianity
Religion & Spirituality
RSS
All content for La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy is the property of Media La Porta and is served directly from their servers with no modification, redirects, or rehosting. The podcast is not affiliated with or endorsed by Podjoint in any way.
Renungan harian katolik yang ditulis oleh Pastur Peter Tukan SDB. Diupdate setiap harinya.
Show more...
Christianity
Religion & Spirituality
Episodes (20/3867)
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Reading and meditation on the Word of God on Friday after Epiphany of the Lord, January 9th, 2026

Delivered by Evelyn from the Parish of Holy Spirit in the Archdiocese of Singapore, Indonesia. 1 John 5: 5-13; Rs psalm 147: 12-13.14-15.19-20; Luke 5: 12-16.


OVERCOMING THE WORLD

 

The title for ourmeditation today is: Overcoming the World. There was a grade 3 elementaryschool boy proudly said to his mother: "Mommy, I can now climb mangoe treeand pick up ripe fruits." Usually the child only looked with envy at thebig and old people who climb and pick up the fruits. He really wanted to do thesame, but still felt scared. He felt very happy when climbing the tree andpicking up the fruits himself. Once when he was not seen by anyone, he climbedand made it to the top. He became so happy with that experience.

 

The child's simpleexperience is an example of the ability to overcome the world. In this worldthere are various kinds of difficulties such as ignorance, laziness, boredom,crime, sickness, pain, lies and so forth. The elementary school child has takenat least one step forward, which is to win against fear and lack of confidence.That little experience opens us up to a horizon of opportunity and experienceto make progress in overcoming difficulties, so that our lives can passchallenges and obstacles, and finally achieving the expected goals.

 

God actually has aplan to defeat the world, that is, since humanity fell into sin for the firsttime. The consequence of which is that the entire world, including humanpersons, is exposed to the virus of sin. God's plan is called the plan ofsalvation. The realization of the plan is evident, namely the incarnationmarked by the great event of the birth of Jesus Christ, which we have justcelebrated His anniversary. This basic and great background has always been theguideline for our every effort or work in overcoming the world. Each of us orour families and communities have received the power of mission from JesusChrist to overcome the world. Jesus convinces us to be able to overcome theworld as He constantly does.

 

It is said clearly bythe first letter of St. John of today's first reading, that "The one whoconquers the world is he who believes in Jesus as the Son of God". JesusHimself has proven it in His every word and deed, for example He did by terminatingleprosy, and so the sick persson became clean. When a school principal managedto discipline some of his teachers who broke the rules, he defeated the worldof cheating at school by certain indiscilinary teachers. A journalist defeatsthe flow of lies that blow strongly done by some members of the society, byrevealing the truth of an event to be published and made people able to see thefact.

 

Each of us is able toovercome the world through our works and professions, and what is really neededis our will and its implementation.

 

Let's pray. In the name of the Father... O most loving God, may we increasingly be honest and sincere in our wordsand actions to do your will. Our Father who art in heaven... In the name of theFather ...

Show more...
23 hours ago
8 minutes 45 seconds

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Jumat sesudah penampakan Tuhan, 9 Januari 2026

Dibawakan oleh Tarsisius Agung Marsono dan Agnes Amariliani dari Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. 1 Yohanes 5: 5-13; Mazmur tg 147: 12-13.14-15.19-20; Lukas 5: 12-16.


MENGALAHKANDUNIA

 

Tema renungan kita pada hari ini ialah: Mengalahkan Dunia.Seorang anak SD kelas 3, laki-laki, dengan bangganya berkata kepada ibunya:“Ma, aku sudah bisa memanjat mangga dan memetik buah yang matang.” Biasanya sianak hanya melihat dengan iri orang-orang yang lebih besar yang memetik. Iaingin sekali melakukan yang sama, tetapi masih merasa takut. Ia merasa sangatgembira kalau memanjat sendiri dan memetiknya. Suatu saat ketika tidak dilihatoleh siapa pun, ia memanjat dan berhasil sampai di atas. Ia menjadi begitusenang.

 

Pengalaman sederhana anak itu merupakan satu contohkemampuan mengalahkan dunia. Di dalam dunia ini berkumpullah aneka macamkesulitan seperti kebodohan, kemalasan, kebosanan, kejahatan, sakit, derita,kebohongan dan lain sebagainya. Anak SD itu paling kurang sudah menempuh satulangkah maju, yaitu menang melawan ketakutan dan kurang percaya diri.Pengalaman kecil itu membukakan kita sebuah cakrawala kesempatan dan pengalamanuntuk mencapai kemajuan demi kemajuan dalam mengalahkan berbagai kesulitan, supayahidup kita dapat melewati aneka tantangan dan halangan, dan akhirnya mencapaitujuan yang diharapkan.

 

Tuhan sebenarnya punya rencana untuk mengalahkan dunia,yaitu sejak manusia jatuh pertama kali ke dalam dosa, yang akibatnya ialahseluruh isi dunia, termasuk pribadi-pribadi manusia terkena virus dosa. RencanaTuhan itu disebut the plan of salvation, rencanakeselamatan. Realisasi rencana itu sudah nyata, yaitu terjadinya inkarnasi yangditandai dengan peristiwa besar kelahiran Yesus Kristus, yang baru saja kitarayakan peringatannya. Latar belakang dasar dan besar inilah yang selalumenjadi pegangan kita untuk setiap usaha atau proyek kita dalam mengalahkandunia. Setiap kita atau keluarga dan kelompok telah mendapatkan kekuatanperutusan dari Yesus Kristus untuk mengalahkan dunia. Yesus meyakinkan kitauntuk dapat mengalahkan dunia seperti Dia.

 

Hal itu dikatakan dengan jelas oleh surat pertama SantoYohanes pada hari ini, yaitu “Orang yang mengalahkan dunia adalah dia yangpercaya pada Yesus sebagai Anak Allah”. Yesus sendiri sudah buktikan itu dalamsetiap perkataan dan perbuatan-Nya, misalnya yang Ia lakukan dengan mengalahkansakit kusta, sehingga penderita itu menjadi tahir. Seorang kepala sekolahberhasil disiplinkan beberapa gurunya yang melanggar aturan, ia kalahkan duniakecurangan di sekolah yang dilakukan oleh oknum guru tertentu. Seorang wartawankalahkan arus kebohongan yang berembus kuat oleh sebagian anggota masyarakat,dengan memberitakan kebenaran fakta suatu peristiwa.

 

Setiap dari kita mampu mengalahkan dunia melalui pekerjaandan profesi kita, dan yang sangat dibutuhkan ialah kemauan dan eksekusinya.

 

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan, semogakami semakin menjadi jujur dan tulus dalam perkataan dan tindakan. Bapa kamiyang ada di surga ... Dalam nama Bapa ...

Show more...
23 hours ago
8 minutes 16 seconds

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Reading and meditation on the Word of God on Thursday after Epiphany of the Lord, January 8th, 2026

Delivered by Christine Gunawan from the Parish of Saint Joseph Cathedral in the Archdiocese of Pontianak, Indonesia. 1 John 4: 19 - 5: 4; Rs psalm 72: 1-2.14.15bc.17; Luke 4: 14-22a.


LOVING GOD IS LOVINGNEIGHBORS

 

Our meditation today isentitled: Loving God Is Loving Neighbors. On April 15, 2018, Pope Francisvisited a church in the city of Rome and he had a dialogue with the children.Emanuelle, an 8-year-old boy, walked forward and asked the Holy Father aquestion.

 

"A few days agomy father passed away. My father was an atheist. But he is a very kind father.We four children were so loved by him. He took us all to church to be baptizedinto Catholicism. And so, is my father now in heaven?" Emanuelle asked thequestion in heavy words because he was crying.

 

Pope Francis gave asatisfying answer and strengthened the heart of Emanuelle with his threebrothers and mother. The Pope said that God brings a good person with kindheart to heaven. Anyone in this world who does goodness to others is verypleasing to God. He or she is certainly so loved by God. He or she must be inheaven and not anywhere else.

 

The problem is thatEmanuelle’s father is not a believer. He is an atheist. In other words, ingeneral understanding, he does not love God. But in the reality of his life heis a kind and loving person. He even did a very great act of love, which was tobring all his children to the Church, to Jesus, and to God. This means he knowsthere is God. He entrusted his family to God.

 

He was actuallyloving a God he is not believing. We must call this a hidden faith, an implicitfaith, or faith known only to God and his own deepest heart. Even he himselfdid not realize that in his subconscious and deepest heart there iscommunication with God. Therefore this father could not help but already havelove for God, so with sincerity and love he offered his children to God.

 

Saint John in thefirst reading today confirms that whoever loves God, he must also love hisfellow brothers and sisters. The love he gives or shares to others is the samelove that he receives from God, because God first loves him. The experience of anatheist father for his four children is enough to give us awareness andunderstanding that we as believers surely love God and we also love ourbrothers, sisters and neighbors. These are all the fulfillment of thescriptures as expressed by the Gospel reading of today. When love is expressedand shared, the scriptures come true and fulfilled.

 

Let's pray. In the name of the Father... O Jesus, make us diligent and faithful with Your Word, then we areencouraged to fulfill Your mission on earth. Hail Mary, full of grace ... Inthe name of the Father...

Show more...
2 days ago
6 minutes 10 seconds

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Kamis sesudah penampakan Tuhan, 8 Januari 2026

Dibawakan oleh Febri dan Rea dari Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. 1 Yohanes 4: 19 - 5: 4; Mazmur tg 72: 1-2.14.15bc.17; Lukas 4: 14-22a.


MENGASIHI ALLAHADALAH MENGASIHI SESAMA

 

Renungan kita pada hari ini bertema: Mengasihi AllahAdalah Mengasihi Sesama. Pada tanggal 15 April 2018, Paus Fransiskusmengunjungi sebuah gereja di kota Roma dan ia sempat berdialog dengananak-anak. Emanuelle, bocah 8 tahun, beranikan diri maju dan mengajukanpertanyaan kepada Bapa Suci.

 

"Beberapa hari lalu bapak saya meninggal dunia. Bapaadalah seorang ateis. Tetapi ia seorang bapak yang baik sekali. Kami empat anaksangat mengalami kasih sayangnya. Ia membawa kami semua ke gereja untukdibaptis menjadi Katolik. Apakah dengan begitu, bapak saya sekarang ada disurga?" Emanuelle mengajukan pertanyaan itu dengan kata-kata yang beratkarena ia menangis.

 

Paus Fransiskus memberikan jawaban yang memuaskan danmenguatkan hati Emanuelle bersama ketiga saudaranya dan ibunya. Paus mengatakanbahwa Tuhan Allah yang membawa seseorang yang berhati baik ke surga. Siapa pundi dunia ini yang berbuat baik kepada sesamanya, sangat berkenan pada Tuhan. Iatentu sangat dikasihi Tuhan. Ia pasti ada di surga dan bukan di tempat yanglain.

 

Persoalannya ialah bapak Emanuelle bukan seorang beriman.Ia seorang ateis. Dengan kata lain, di dalam pemahaman pada umumnya, ia tidakmengasihi Allah. Namun di dalam kenyataan hidupnya ia adalah seorang yang baik,penuh kasih sayang. Ia bahkan melakukan sebuah perbuatan kasih yang sangatbesar, yaitu membawa semua anaknya kepada Gereja, kepada Yesus, dan kepadaAllah. Berarti ia mengetahui ada Tuhan. Kepada Tuhan itu ia percayakankeluarganya.

 

Ia sebenarnya sedang mengasihi Tuhan yang tidak iapercayai. Ini harus kita namakan sebagai beriman yang terselubung, berimansecara implisit, atau beriman yang hanya diketahui Tuhan Allah dan hatinya yangterdalam. Bahkan ia sendiri tidak menyadari bahwa di dalam bawah sadar danhatinya yang terdalam ada komunikasi dengan Tuhan. Oleh karena itu si Bapak inimau tidak mau sudah memiliki kasih kepada Tuhan, maka ia dengan kemauan yangbesar dan dalam kasih itu pula mempersembahkan anak-anaknya kepada Tuhan.

 

Santo Yohanes di dalam bacaan pertama hari ini menegaskanbahwa barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudara dansesamanya. Kasih yang ia berikan atau bagikan kepada sesama itu adalah kasihyang sama yang ia dapatkan dari Tuhan, karena Tuhan yang lebih dahulu mengasihidia. Pengalaman si Bapak yang ateis kepada empat anaknya itu cukup memberikankita kesadaran dan pemahaman, bahwa kita sebagai orang-orang beriman tentusangat mengasihi Allah dan kita mengasihi juga saudara dan sesama kita. Inisemua adalah penggenapan kitab suci seperti yang diwartakan oleh Injil padahari ini. Pada saat kasih itu diungkapkan dan dibagikan, kitab suci menjadinyata.

 

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Yesus, buatlahkami tekun dengan Sabda-Mu, yaitu mendengar dengan semangat sebagai murid danmenjalankannya dengan penuh kasih, maka kami digenapi oleh firman-Mu. SalamMaria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Show more...
2 days ago
7 minutes 56 seconds

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Reading and meditation on the Word of God on Wednesday after Epiphany of the Lord, January 7th, 2026

Delivered by Lukitananda and Svara Nirmala from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indoenesia. 1 John 4: 11-18; Rs psalm 72: 1-2.10-11.12-13; Mark 6: 45-52.


SEEING THE LORD

 

The title for ourmeditation today is: Seeing the Lord. For people who live in the same time orage as Jesus Christ, seeing God is a very visible reality. Whereas the timeafter Jesus rose and ascended to heaven, it is no longer a vision of Godthrough physical eyes, but with spiritual eyes and faith.

 

For such a strikingdifference, Jesus left us His teachings to strengthen our eyes of faith andspirit, so that when believers experience an encounter and able to see God,they do not use their eyes but their hearts and minds. Meeting God with faithis our experience every day as true believers.

 

The way to see Godusing non-sensory abilities is like the experience of three small children whocelebrated Christmas and New Year in their parents' village, when they were sodelighted being with their grandparents. From the city, the family brought somegifts such as food, coffee, sugar, milk, syrup and many others. Each childoffered a gift to the grandfather and grandmother. The act of offering giftswas truly a happy moment for the whole family.

 

The family from cityexperienced a great joy in a family celebration took place in the villageduring the holidays. They were welcomed so warmly. Families in the village alsoexperienced the same warm atmosphere. Grandparents were so happy to find theirchildren and grandchildren full of joy and cheerfulness. God really blessesthem with all kindness and love. All of them really experienced what we valueas the love of God that works.

 

The events in thisfamily really illustrate that God is love, Deuscaritas est, as mentioned in the first letter of Saint John. The scripturesand the teachings of the Church place great emphasis on love as the wisdom andway of life of every follower of Christ. The Ten Commandments contain only onelaw, which is love for others where God is also loved through others. SaintJohn advises that it is enough to seek and see God by doing love.

 

The way to do love isto be a peacemaker and a promoter of happiness. Jesus who walked on the sea andwas present in the midst of His apostles is a person who gives sense ofcomfort, calm, and peace. He convinces His followers not to be afraid. Our loveshould not cause worry, suspicion or fear. Instead our acts of love must bringjoy, peace and happiness.


Let's pray. In the name of the Father... O God, fill us with strong faith, so that we are able to carry out yourwill with joy and hope. Glory to the Father and to the Son and to the HolySpirit ... In the name of the Father ...

Show more...
2 days ago
6 minutes 28 seconds

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Rabu sesudah penampakan Tuhan, 7 Januari 2026

Dibawakan oleh Imelda Palma dan Agustinus Windu Aji dari Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. 1 Yohanes 4: 11-18; Mazmur tg 72: 1-2.10-11.12-13; Markus 6: 45-52.


MELIHAT TUHAN

 

Tema renungan kita pada hari ini ialah: Melihat Tuhan.Untuk orang-orang yang hidup dalam waktu atau zaman yang sama dengan YesusKristus, melihat Tuhan merupakan sebuah kenyataan yang sangat kasat mata.Sedangkan masa setelah Yesus bangkit dan naik ke surga, bukan lagi berlakupenglihatan Tuhan dengan mata fisik, tetapi dengan mata rohani dan iman.

 

Terhadap perbedaan yang amat mencolok itu, Yesusmeninggalkan ajaran-ajaran untuk memperkuat mata iman dan rohani, sehinggaketika orang-orang beriman mengalami perjumpaan dan melihat Tuhan, mereka tidakmemakai indra matanya tetapi hati dan budinya. Menjumpai Tuhan dengan imanmerupakan pengalaman kita orang-orang beriman setiap hari.

 

Salah satu cara melihat Tuhan dengan memakai kemampuanbukan indra mata ialah seperti tiga anak yang masih kecil yang merayakan Nataldan Tahun Baru di kampung orang tuanya, dengan kakek dan neneknya. Dari kota,keluarganya membawa oleh-oleh berupa bahan makanan dan minuman seperti kopi,gula, susu, sirop dan banyak lainnya. Setiap anak memberikan satu bingkisankepada kekek dan neneknya. Pemberian itu sungguh membahagiakan seluruhkeluarga.

 

Keluarga dari kota mengalami suka cita yang besar ketikaberada bersama keluarga besar di kampung halaman. Mereka disambut dengan penuhkehangatan. Keluarga di kampung juga mengalami hal yang sama. Kakek dan nenekbegitu bahagia menemukan anak-anak dan cucu-cucunya yang penuh gembira danceria. Tuhan sungguh memberkati mereka dengan segala kebaikan dan kasih sayang.Semua itu mereka alami sebagai kasih Tuhan yang bekerja.

 

Peristiwa di dalam keluarga ini sungguh menggambarkanbahwa Tuhan Allah adalah kasih, Deuscaritas est, seperti yang disebutkan dalam bacaan surat pertama SantoYohanes. Kitab suci dan ajaran Gereja sangat memberikan penekanan pada kasihsebagai ajaran dan cara hidup setiap pengikut Kristus. Sepuluh perintah Allahberisi satu hukum saja, yaitu cinta kepada sesama di mana Tuhan juga dikasihimelalui sesama. Santo Yohanes menasihatkan bahwa kita cukup saja mencari danmelihat Tuhan dengan berbuat kasih.

 

Salah satu cara berbuat kasih adalah dengan menjadipembawa damai dan rasa gembira. Yesus yang berjalan di atas air dan hadir ditengah para rasul-Nya adalah seorang yang memberikan rasa nyaman, tenang, dandamai. Bahkan Ia menjamin supaya para pengikut-Nya itu tidak usah takut.Perbuatan kasih kita mestinya bukan sebagai hal yang mengawatirkan,mencurigakan atau menakutkan. Sebaliknya perbuatan kasih kita harus membawasuka cita damai di hati.

 

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah, penuhilahdiri kami dengan iman yang kuat, supaya kami mampu menjalankan kehendak-Mu.Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Show more...
2 days ago
7 minutes 8 seconds

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Reading and meditation on the Word of God on Tuesday after Epiphany, January 6th, 2026

Delivered by Fiona from the Parish of Mary Queen of Rosary in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. 1 John 4: 7-10; Rs psalm 72: 1-2.3-4b.7-8; Markus 6: 34-44.


BREAD AND FISH

 

Our meditation today isentitled: Bread and Fish. In a pond that is about 25 by 50 meters size there isa large number of various types of fish. The fish are large and ready to beharvested. The parish priest was invited to pray and bless the harvest ceremonyat the pond. The owner of the pond explained that the fish's daily food isbread. According to him those fish are delicious and healthy dish for the mealsat home. The harvest that day served as a good meal for the Priest and manypeople who attended the event.

 

Bread and fishrepresent our daily food. We always pray and ask God to provide enough food forour daily survival. In "Our Father" prayer, we ask God to provide forus daily food. So the need for food for every day is concrete, which inevitablyis fulfilled, therefore, humans are not threatened by the danger of hunger anddeath. Before asking for other needs to be attended, we should ask first food anddrink for our stomach and body to be given strength and energy. God provideseverything, including food and drink, and we must make our access to it.

 

The Lord Jesusteaches His own prayer to us, which meant that our access to the Father wouldbe direct in order to get what we ask for. To the thousands of people who werehungry in the wilderness, Jesus wanted them to have direct access to the foodthey mostly needed. A direct intervention to overcome an actual problem that ishappening is an action that God desires, and we are commanded to do our part init.

 

God is so wise inputting others around us: our own family members, friends, acquaintances,friends and fellow human beings even more and more who are listed in socialmedia relationship. Networking through the media makes all of us equals intimes and places to be easily known and accessible. In this context, Jesus'command is very valid today: "You must feed them". This willstrengthen the faith and moral awareness of everyone to act directly to providefood and drink for those who are in need, hungry and thirsty.

 

Media as an importantinstrument for human interaction today should hold the principle that theirrole is to be the hand of God, to be the channel for people to help one another.God is love, as proclaimed by the First Letter of John, is the light thatguides the work carried out by media, especially in providing direct access tothe food and drink that people of today really need.

 

Let's pray. In the name of the Father... O Lord, make us channels of your love for the needy ones, especially thosewho are hungry and thirsty for the food and drink for their survival. Glory tothe Father and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of theFather...

Show more...
3 days ago
7 minutes 1 second

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Selasa sesudah penampakan Tuhan, 6 Januari 2026

Dibawakan oleh E. Lukas M. Ari Wibowo dan Theresia Tuti Andayani dari Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. 1 Yohanes 4: 7-10; Mazmur tg 72: 1-2.3-4b.7-8; Markus 6: 34-44.


ROTI DAN IKAN

 

Renungan kita pada hari ini bertema: Roti dan Ikan. Disebuah empang yang luasnya sekitar 25 kali 50 meter ada sejumlah besar ikananeka jenis. Ikat-ikan sudah besar dan siap untuk dipanen. Pastor Parokidiundang untuk mendoakan dan memberkati upacara panen di empang tersebut. Sipemilik empang menjelaskan bahwa makanan harian ikan-ikan adalah roti. Iamemastikan bahwa ikan-ikan itu menjadi lauk yang enak dan sehat. Hasil panenpada hari itu menjadi santapan yang memuaskan Pastor dan banyak orang yang menghadiriacara tersebut.

 

Roti dan ikan adalah representasi makanan kita setiaphari. Kita selalu berdoa dan meminta Tuhan untuk mencukupi makanan demikelangsungan hidup kita setiap hari. Di dalam doa “Bapa Kami’, kita memohonsupaya Tuhan Allah memberikan makanan bagi kita pada hari ini. Maka kebutuhanmakanan untuk hari ini adalah konkret, yang mau tidak mau dipenuhi jika manusiatidak terancam bahaya kelaparan dan kematian. Sebelum meminta kebutuhan lainsebagai tambahan, sebaiknya kita minta agar perut dan tubuh kita diberi kekuatanenergi berupa makanan dan minuman. Tuhan menyediakan semuanya.

 

Tuhan Yesus mengajarkan doa-Nya sendiri kepada kita, yangmaksudnya supaya akses kita kepada Bapa menjadi langsung, demi mendapatkan apayang kita minta. Kepada ribuan orang yang kelaparan di padang gurun, Yesusmenghendaki supaya mereka harus mendapatkan akses langsung atas makanan yangdiperlukannya. Sebuah campur tangan langsung demi mengatasi suatu persoalanaktual yang sedang terjadi, merupakan tindakan yang sangat dikehendaki olehTuhan, dan kita diperintahkan untuk melakukannya.

 

Tuhan sangat bijaksana dalam menghadirkan sesama bagikita: anggota keluarga sendiri, teman, kenalan, sahabat dan sesama umat manusiabahkan cukup dengan mencakup lebih banyak orang melalui media sosial. Network melalui media menjadikan kitasemua sebagai sesama dalam waktu dan tempat yang mudah dijangkau. Dalam konteksini, sangat berlaku perintah Yesus pada hari ini: “Kamu harus memberi merekamakan”. Hal ini kiranya memperkuat kesadaran iman dan moral setiap orang untukbertindak langsung menyediakan kebutuhan makanan bagi orang-orang yangmembutuhkannya.

 

Media-media yang menjadi instrumen penting untukterjadinya interaksi antar manusia tersebut, selayaknya memegang prinsip bahwaperan mereka adalah menjadi tangan Tuhan. Allah adalah kasih, seperti yangdiwartakan oleh Surat Pertama Yohanes, adalah terang yang menuntunpekerjaan-pekerjaan yang dilakukan media-media, terutama dalam menyediakanakses langsung kebutuhan makanan pada hari ini bagi orang-orang yangmembutuhkan.

 

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan, jadikanlahkami saluran kasih-Mu kepada orang-orang yang berkekurangan. Kemuliaan kepadaBapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Show more...
3 days ago
8 minutes 5 seconds

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Reading and meditation on the Word of God on Monday after Epiphany, Januray 5th, 2026

Delivered by Novi from the Parish of Holy Spirit Cathedral in the Diocese of Labuan Bajo, Indonesia. 1 John 3: 22 - 4: 6; Rs psalm 2: 7-8.10-11; Matthew 4: 12-17.23-25.


FOLLOWING THE LIGHTOF THE STAR

 

The title for ourmeditation today is: Following the Light of the Star. The epiphany orappearance of the Lord to the whole world, which was marked by the visit of thethree Magi who presented their offerings to the baby Jesus, is still veryinspiring to us. They finally chose another path after meeting and offeringthemselves to the Lord. This choice is very meaningful in the journey of faith.

 

Choosing another pathmeans change happpens after someone meets God. His almighty power and gracemake a person can not be the same as before. Here we should understand that thestar that guided them to the stable of Bethlehem remained radiant and continuedguiding them to go on in their lives following the new path they chose. Thestar is God Himself who by His Spirit governs and illuminates every step ofhuman life.

 

Lord Jesus is ourstar. Each one of us can say "He is my real star". People today liketo choose their favorite stars whether in sports or in other fields such asmusic, film and politics. But with regards to the call of life and salvation ofour souls, we have only one star, namely Jesus Christ whose birth anniversarywe have just celebrated on December 25th. Our journey of life from thebeginning of the new year 2026 should be under the guidance of the starlight ofJesus Christ.

 

According to theinspiration of our readings today, there are at least three strengths of thestarlight of Jesus Christ. The first is the light of repentance. The power ofthis light is able to change hearts and minds that tend to resist the path ofJesus Christ. It began with the King Herod and all of Jerusalem who weredoubtful, surprised or unbelieving in the presence of Jesus the Savior. Jesushimself, according to the Gospel of Matthew today, calls for repentance. It'stime to repent, and don't let this special time go away without repentance.

 

Second is the lightof prayer and determination. A good relationship with God needs to be fosteredby the spirit of prayer and living out the true faith. Without these twoelements, the relationship will become rigid and eventually die. The firstletter of John in the first reading calls it as our praise and request to God,which should become the content of our prayers. Third is the light of service.Jesus is our main star in the ministry, and today he is giving us an example byteaching and preaching the gospel, eliminating pain and suffering that impedepeople's normal life, and casting out evil spirits that torment the lives ofthose who are possessed. Service is an expression of love itself.

 

Let's pray. In the name of the Father... O generous and loving God, may we always obey your will through our wordsand deeds that can bring change in our common life with our neigbors. Hail Mary,full of grace... In the name of the Father ...

Show more...
5 days ago
8 minutes

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Senin sesudah penampakan Tuhan, 5 Januari 2026

Dibawakan oleh Imelda Palma dan Agustinus Windu Aji dari Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. 1 Yohanes 3: 22 - 4: 6; Mazmur tg 2: 7-8.10-11; Matius 4: 12-17.23-25.


MENGIKUTI CAHAYABINTANG

 

Tema renungan kita pada hari ini ialah: Mengikuti CahayaBintang. Peristiwa penampakan Tuhan, yang ditandai dengan kunjungan tiga orangmajus dari Timur yang memberikan persembahan mereka kepada bayi Yesus, masihkuat inspirasinya kepada kita. Tiga orang Majus itu akhirnya memilih jalan lainsetelah berjumpa dan mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. Pilihan ini sangatbermakna dalam sebuah perjalanan iman.

 

Pilihan jalan lain bermakna perubahan setelah orangberjumpa dengan Tuhan. Kekuatan dan karunia-Nya membuat seseorang tidak bisasama lagi seperti yang dulu. Di sini dapat kita pahami bahwa bintang yangmembimbing mereka sampai ke atas Bethlehem itu, tetap bercahaya dan membimbingmereka untuk berjalan terus di dalam hidupnya, yaitu di jalan baru yangdipilihnya itu. Bintang itu ialah Tuhan sendiri, yang dengan Roh-Nya mengaturdan menerangi setiap langkah kehidupan manusia.

 

Tuhan Yesus adalah bintang kita. He is our star. Orang-orang zaman sekarang suka memilih bintangkesukaannya entah dalam olahraga entah dalam bidang lain seperti musik, filmdan selebritas. Namun terkait dengan panggilan hidup dan keselamatan jiwa-jiwakita, bintang kita hanya satu, yaitu Yesus Kristus, yang kenangan kelahirannyatelah kita rayakan dalam hari Natal yang baru saja berlalu. Perjalanan hidupkita sejak awal tahun baru 2026 ini sepantasnya berada di bawah bimbingancahaya bintang Yesus Kristus.

 

Menurut inspirasi bacaan-bacaan kita pada hari ini, palingkurang ada tiga kekuatan cahaya bintang Yesus Kristus. Yang pertama ialahcahaya pertobatan. Kekuatan cahaya ini mampu mengubah hati dan budi yangcenderung berseberangan dengan jalan Yesus Kristus. Ini dimulai dengan Herodesdan seluruh Yerusalem yang ragu, heran atau kurang percaya dengan kehadiranYesus Sang Juru Selamat. Yesus sendiri, menurut Injil Matius pada hari ini,menyerukan pertobatan itu. Sudah waktunya untuk bertobat, dan jangan sampaiwaktu yang istimewa itu berlalu pergi tanpa ada pertobatan.

 

Kedua ialah cahaya doa dan keteguhan hati. Sebuah hubunganyang dekat dan menyatu dengan Tuhan perlu dijamin oleh semangat doa dan iman.Tanpa kedua unsur ini, hubungan akan menjadi kaku dan akhirnya berhenti. SuratYohanes yang pertama dalam bacaan pertama menyebutnya sebagai permintaan danpermohonan kita kepada Tuhan, yang selalu menjadi isi doa-doa kita. Ketigaialah cahaya pelayanan. Yesus adalah bintang utama kita dalam pelayanan, danhari ini ia memberikan teladan dengan mengajar dan memberitakan Injil,melenyapkan sakit dan derita orang-orang, serta mengusir roh-roh jahat yangmenyiksa hidup orang-orang yang dirasuki. Pelayanan adalah kasih itu sendiri.

 

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha baik,semoga kami senantiasa taat pada kehendak-Mu yaitu melakukan tugas-tugasKerajaan Allah yang sudah Engkau teladankan kepada kami. Salam Maria, penuhrahmat ... Dalam nama Bapa ...

Show more...
5 days ago
7 minutes 18 seconds

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Reading and meditation on the Word of God on Friday in weekday of Christmas, January 2nd, 2025, Memorial of Basil the Great and Gregory Nazianzen, Bishops and Doctors of the Church

Delivered by Randy from the Parish of Christ the King in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. 1 John 2: 22-28; Rs psalm 98: 1.2-3ab.3cd-4; John 1: 19-28.


VOICE AND WORD

 

The title for ourmeditation today is: Voice and Word. Today our Church commemorates Saint Basilthe Great and Gregory of Nasianze. Both are the Church fathers, and the Churchscholars who were instrumental in strengthening the mission of the Church inthe Asia Minor area, of ​​what is now Turkey and surroundings. They are bothexamples of the face and body of Christ in the Middle East and parts of EasternEurope.

 

Throughout this yearwe will be faced with a challenge in the form of the question: "Who areyou?". This question is what people asked John the Baptist about hisidentity. They were disturbed if there were people so famous and seen asprophets with great influence, especially reagrding the view about the comingof the Messiah, or about the holy prophet Elijah thought to rise from death.John's testimony really confused them with mix feelings of wonder, fear,curiosity, annoyance, anger, and challenged.

 

If now we are alsoconfronted with that same question, what would our best answer be? Let us lookback at the two saints, Basil and Gregory who were indeed the face of Christ inthe place where they worked. Our view can go back further, namely to John theBaptist. He also revealed the true face of Christ to all his listeners.

 

Another expressionsimilar to this, is what we can call "the voice for the word". JesusChrist is the eternal Word of God. Whereas John the Baptist, Saints Basil andGregory and every Christian as His followers, must be the voices who proclaim theWord, which is Jesus Christ. To act as the voice, we are very dependent on theWord, the source of truth and as the content of our voices. Because if thesound has no connection with the word, the voice might express another alienword or not saying at all any word.

 

In accordance withour faith, the Word is surely only the Lord Jesus. Because if it were not theLord Jesus, we would have never been preaching the Word through the works andmission of the Church. To be a voice for the Lord Jesus, we need the ability ofthe supporting instruments. First and foremost is the primary instrument, whichis each of us with different abilities. There are people who are gifted inknowledge, there are people who are gifted in action, and there are those whoare exemplary in life.

 

The secondaryinstrument is the means of communication that help us to convey the Word toreach more people. Language, writings, music, dance, microphones, speakers,computers and online media have become part of the voice for the Word. Le usmake use of them with good intention and great impact for public audience.


Let's pray. In the name of the Father... O Father almighty and everliving God, bless us and teach us to knowourselves in Jesus Christ so that we may reach perfection as You wish us to be.Our Father who art in heaven ... In the name of the Father ...

Show more...
1 week ago
7 minutes 42 seconds

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Jumat, hari biasa Natal, 2 Januari 2026, Peringatan Santo Basilius Agung dan Santo Gregorius dari Nazianze, Uskup dan Pujangga Gereja

Dibawakan oleh Evano dan Gisela dari Gereja Santo Ambrosius, Paroki Villa Melati Mas di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. 1 Yohanes 2: 22-28; Mazmur tg 98: 1.2-3ab.3cd-4; Yohanes 1: 19-28.


SUARA DAN KATA

 

Tema renungan kita pada hari ini ialah: Suara dan Kata.  Pada hari ini Gereja kita memperingati SantoBasilius Agung dan Gregorius Nasianze. Keduanya adalah para bapa Gereja,orang-orang cendekia Gereja yang sangat berjasa dalam memperkuat misi Gereja didaerah Asia Minor yang sekarang Turki dan sekitarnya. Mereka berdua adalahcontoh wajah dan tubuh Kristus di daerah Timur Tengah dan sebagian wilayahEropa Timur.

 

Sepanjang tahun ini kita akan dihadapkan oleh sebuah tantangan, dalambentuk pertanyaan: “Siapakah engkau?”. Pertanyaan ini ialah yang ditanyakanoleh orang-orang kepada Yohanes Pembaptis soal identitasnya. Mereka sangatrepot kalau ada orang begitu terkenal dan dipandang nabi bisa menghebohkan,terutama pandangan mereka bahwa Mesias akan datang, atau nabi Elia yang suciitu akan bangkit lagi. Kesaksian Yohanes membuat rasa mereka bercampur adukheran, takut, penasaran, kesal, marah, dan tertantang.

 

Kalau selanjutnya kita sering atau selalu dihadapkan pada pertanyaan itu,apa kiranya jawaban Anda dan saya yang terbaik? Marilah kita ke belakang untukmelihat kedua santo tadi, Basilius dan Gregorius yang menjadi wajah Kristus ditempat mereka berkarya. Pandangan kita bisa lebih jauh lagi ke belakang, yaitukepada Yohanes Pembaptis. Ia juga menampakkan wajah Kristus yang sesungguhnyakepada para pendengarnya.

 

Ungkapan lain yang sama maknanya ialah menjadi suara bagi kata atau Sabda.Yesus Kristus adalah Sabda Tuhan yang kekal, sedangkan Yohanes, Basilius,Gregorius dan setiap orang Kristen pengikut-Nya harus menjadi suara yangmewartakan-Nya. Dalam berperan sebagai suara, kita sangat bergantung padaSabda, yaitu sumber kebenaran dan sebagai isi suara kita. Sebab kalau suara itutidak mempunyai kaitan dengan kata, suara itu mungkin mengungkapkan kata yanglain atau tidak berkata-kata apa pun.

 

Sesuai dengan iman kita, Sabda itu pasti hanya Tuhan Yesus. Sebab jikabukan Tuhan Yesus, kita tidak akan pernah melakukan kegiatan pewartaan di dalamGereja dan dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk menjadi suara bagi TuhanYesus, dibutuhkan kemampuan instrumen pendukungnya. Yang paling pertama danutama ialah instrumen primer, yaitu pribadi kita masing-masing dengan kemampuanyang berbeda-beda. Ada orang yang berbakat dalam pengetahuan, ada yang berbakatdalam aksi, dan ada yang dengan teladan hidup.

 

Instrumen sekundernya ialah sarana komunikasi yang membantu kitamenyampaikan Sabda itu menjadi lebih menjangkau banyak orang. Mikrofon,speaker, komputer dan media online sudah menjadi bagian dari suara bagi kata.


Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa ... Bapa maha murah, semoga saya mengenal dirisaya di dalam Yesus Kristus dengan sempurna. Bapa kami yang ada di surga ...Dalam nama Bapa ...

Show more...
1 week ago
9 minutes 5 seconds

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Reading and meditation on the Word of God on Thursday, the Octave Day of Christmas, January 1st, 2026, Solemnity of Mary, the Holy Mother of God

Delivered by Clifford Ericson Kuandang from the Parish of Saint Vincentius a Paulo in the Diocese of Malang, Indonesia. Numbers 6: 22-27; Rs psalm 67: 2-3.5.6.8; Galatians 4: 4-7; Luke 2: 16-21.


THE MOTHERHOOD OFMOTHER

 

The title for ourmeditation today is: The Motherhood of Mother. Our universal Church celebratestoday the solemnity of Our Lady Mary, the Mother of God. It's a greatcelebration for our Lady which we all observe on the 8th day after the birth ofJesus Christ. On the 8th day of His birth also, Jesus for the first timesacrifieced His blood through the rite of circumcision according to localcustoms. His Mother Mary, certainly was the person most responsible for caringfor the wounds of her Son, for as an infant, this circumcision would be verypainful. His mother must repeatedly wipe the blood flowing out as the wound wasstill not dry.

 

Blood is a verystrong element to relate a mother with her child. The mother's womb which isinhabited by the child during pregnancy shows an inseparable blood relationshipbetween the two, and it becomes so evident when the baby is already born, as heis bathed in the mother's blood before enjoying the new world outside themother's body. Virgin Mary and our mothers in the world continue to show howthe blood relationship keeps interacting until the child grows up to becomemature. Virgin Mary enjoyed a life filled with blood of Her Son Jesus,especially when she was at the foot of the cross in Golgotha ​​and embracingthe dead body of Jesus Christ, la pieta.

 

Our mothers in theworld, of course with their husbands or our fathers, feel how painful they arewhen their children suffer. Their blood do not flow in normal circulation  because they are not able to endure that suffering.How they are joyful when their children are happy, when the blood in theirbodies circulate well so they look cheerful and happy. The children's actualhappiness or sadness in this world cause the blood situation of their parentsgoes calm, low, and rise. The blood really unites the mother and child, therefore,this relationship becomes so solid and can only be terminated by death. Theseall illustrate that the motherhood of a mother is so important. The woman whogave birth to us is a mother with motherhood because her love and concern forus can be seen of the same patern as God for us, His beloved people.

 

On this very specialday of Mary, the Mother of God, may all our hearts be filled with joy andgratitude. Christmas that brings us together with Jesus and the Family ofNazareth, makes our joy full and we want to carry it out for the next year. Wemust start this year with joy and optimism, and that is the content of theGospel that we are about to proclaim. The motherhood of mother figure,basically  is in women, is very centralin our lives. So we must be very grateful because God is so good to pour giftsto our mothers, ladies and women. Our life cannot be a real one if we don'thave mothers.

 

Let's pray. In the name of the Father... O most glorious Father, thank you abundantly for the gift of the Mother ofGod and our respective mothers; make us children who are always loyal to ourmothers and always pray for them. Hail Mary, full of grace ... In the name ofthe Father ...

Show more...
1 week ago
6 minutes 37 seconds

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Kamis, hari ke-8 Oktaf Natal, 1 Januari 2026, Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah

Dibawakan oleh Rini Sudarno dari Gereja Santo Ambrosius, Paroki Villa Melati Mas di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Bilangan 6: 22-27; Mazmur tg 67: 2-3.5.6.8; Galatia 4: 4-7; Lukas 2: 16-21.


BUNDA YANGKEIBUAN

 

Tema renungan kita pada hari ini ialah: Bunda YangKeibuan. Pada hari ini seluruh Gereja merayakan Hari Raya Maria Bunda Allah,sebuah perayaan besar untuk Bunda kita yang kita semua rayakan pada hari ke-8setelah kelahiran Yesus Kristus. Pada hari ke-8 kelahiran-Nya ini juga, Yesusuntuk pertama kali menumpahkan darah-Nya melalui ritual sunatan sesuai adatistiadat setempat. Bunda-Nya Maria, tentu sebagai orang yang paling bertanggungjawab untuk merawat luka pada Putra-Nya itu, yang bagi anak bayi sangatlahsakit. Ibunda pasti berulang kali melap darah yang keluar selama luka masihbelum sembuh.

 

Darah merupakan simbol sangat kuat untuk menghubungkanseorang ibu dengan anaknya. Rahim ibu yang dihuni anak selama dalam kandunganmemperlihatkan suatu hubungan darah yang tak terpisahkan antara keduanya, danitu menjadi sangat jelas ketika bayi itu dilahirkan, ia bermandikan darahibunya sebelum menikmati dunia baru di luar tubuh ibunda. Maria dan para ibu senantiasamemperlihatkan betapa hubungan darah itu berlanjut sampai anak itu tumbuhmenjadi besar dan dewasa. Bunda Maria menikmati hidup penuh dengan darahbersama Putra-Nya, khususnya selama di kaki salib di Golgota dan saat memangkujenazah Yesus Kristus, la pieta.

 

Para ibu kita di dunia, tentu saja bersama suami atau bapakita, merasakan betapa sakit di tubuh mereka jika anak-anaknya menderita. Darahmereka bagai mengalir deras tanda tak tahan penderitaan itu. Betapa merekabersuka cita saat anak mereka bahagia, saat darah dalam tubuh merekabersirkulasi baik sehingga mereka tampak ceria dan senang. Betapa susah senanganak-anaknya di dunia membuat darah mereka tenang, rendah, dan naik. Darah ituyang menyatukan ibu dan anak, sehingga hubungan ini pada prinsipnya hanya dapatdiputuskan oleh kematian. Ini semua menggambarkan bahwa seorang bunda ituberhati keibuan. Wanita yang melahirkan kita itu keibuan karena kasih danperhatiannya kepada kita yang dapat disejajarkan dengan Tuhan Allah yangmencintai kita ciptaan-Nya.

 

Di hari istimewa untuk merayakan Maria Bunda Allah ini,kiranya hati kita semua penuh dengan suka cita dan bersyukur. Natal yangmempertemukan kita dengan Yesus dan Keluarga Nazareth, membuat suka cita kitapenuh dan kita ingin membawanya sepanjang satu tahun ke depan. Kita mestimemulai tahun ini dengan suka cita dan optimisme, dan itu adalah isi Injil yangakan kita wartakan. Figur bunda yang keibuan, pada dasarnya pada diri wanita,sangat sentral dalam hidup kita. Maka kita mesti bersyukur sangat mendalamkarena Tuhan amat baik memberikan karunia bunda, ibu, dan wanita kepada kita.Hidup kita tak bisa menjadi hidup yang sesungguhnya kalau tak punya seorangbunda yang keibuan.

 

Bunda Maria adalah ibu kandungrohani kita semua yang sudah mendapat martabat putra dan putri Allah atausaudara dan saudari Yesus Kristus. Bunda Maria menolong kita untuk melepaskanmanusia lama kita demi mengenakan manusia baru dalam diri kita, yaitu sebagaiorang-orang milik Yesus Kristus.


Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Bapa maha baik,terima kasih berlimpah atas karunia Bunda Allah dan ibu kami masing-masing,jadikanlah kami anak-anak yang selalu setia pada ibu kami dan tetap mendoakanmereka. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa...

Show more...
1 week ago
8 minutes 49 seconds

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Reading and meditation on the Word of God on Wednesday, the seventh day in the Octave of Christmas, December 31st, 2025

Delivered by Vici from the Parish of Saint John the Baptist in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. 1 John 2: 18-21; Rs psalm 96: 1-2.11-12.13; John 1: 1-18.


THE LAST MOMENT

 

Our meditation today isentitled: The Last Moment. The begining and the end occur in history of life.God is eternal where the beginning and the end actually unites each other. Whenthe writer of the first Letter of John says that today is the last hour, heactually proclaims about God's own words to remind us of the history of ourlives on earth.

 

The last moment inthe simplest understanding is related to a period of time that eventually endsat certain point of history and passes away. We use the measurement of timesuch as seconds, minutes, hours, days, weeks, months and years. When a measureof time ends, it signifies the completion of an activity or life event and weusually say it as "time is over".

 

Today, December 31st,we remember it as the last time or the last hour of 2025. The period of lifefrom the first seconds to the last seconds of the year 2025 will reach itsfinal point at 00:00 midnight. This entire day of today will be filled withvarious activities of individuals, families or communities that reflect oursense of gratitude and hope for the coming new year.

 

But today's readingswant to teach us that our reflection on the last moment is not enough to takeinto account a period of events and activities in our lives. It is not enoughto contemplate life only on the surface, that is, today will pass and tomorrowwill come the next day. God actually reminds us that He is indeed above time.

 

It is not time thatdetermines the fate of life that has a beginning and an end, but only God whodetermines it. An elderly man once said this expression: "Too bad I wasborn first, if I were born after I would have enjoyed all the conveniences andadvancements of this age." Then a teenager also said the following:"What makes me jealous is that adults are more mature and successful intheir endeavors."

 

Both expressions fromthat somehow show regret are the examples of persons who see this life only amatter of time that defines one’s life. This is a superficial attitude of lifeor an experience life only on the surface. For believers, life and its purposemust be deeper and aspire to reach the highest end. Our life and journey offaith must depend only on God. We mus become true disciples of the Lord and letHim guide us along the way to perfection. We must rely on God who determinesour lives today and tomorrow.


Let's pray. In the name of the Father... O heavenly Father, bless and enable us to make every moment of our lives meaningfuland may our attitudes of faith always follow your will consistently. Our Fatherwho art in heaven ... In the name of the Father ...

Show more...
1 week ago
6 minutes 14 seconds

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Rabu, hari ke-7 dalam Oktaf Natal, 31 Desember 2025

Dibawakan oleh Agustinus Windu Aji dari Paroki Baciro Yogyakarta di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. 1 Yohanes 2: 18-21; Mazmur tg 96: 1-2.11-12.13; Yohanes 1: 1-18.


WAKTU YANGTERAKHIR

 

Renungan kita pada hari ini bertema: Waktu Yang Terakhir.Awal dan akhir terjadi dalam sejarah kehidupan manusia. Tuhan adalah abadi dimana awal dan akhir sesungguhnya menyatu. Ketika penulis Surat Yohanes yangpertama mengatakan bahwa hari ini adalah waktu yang terakhir, ia sebenarnyamewartakan firman Tuhan sendiri yang mengingatkan kita tentang sejarah hidup kitadi dunia.

 

Waktu yang terakhir dalam pemahaman paling sederhana ialahberkaitan dengan suatu jangka waktu yang habis dan berlalu pergi. Ukuran waktuyang kita pakai ialah detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Ketikasatu ukuran itu berakhir, sekaligus untuk menandakan selesainya aktivitas atauperistiwa kehidupan, kita biasanya menyebutkan dengan "waktunyaberakhir".

 

Pada hari ini, tanggal 31 Desember, kita mengenangnyasebagai waktu yang terakhir dalam tahun 2025. Jangka waktu dari detik awal hinggapenghujung tahun 2025 akan mencapai titik terakhirnya pada pukul 00:00 tengahmalam. Seluruh hari ini akan diisi dengan berbagai kegiatan dari pribadi,keluarga atau komunitas yang mengusung tema ungkapan syukur dan pengharapanakan tahun baru.

 

Tetapi bacaan-bacaan pada hari ini ingin mengajarkan kitabahwa refleksi kita tentang waktu yang terakhir tidak cukup dengan hanyamemperhitungkan sebuah jangka waktu peristiwa dan kegiatan hidup kita. Kitatidak cukup merenungkan hidup ini hanya di bagian permukaan, yaitu hari iniakan berlalu dan besok akan datang hari berikutnya. Kita sebenarnya hendakdiingatkan oleh firman Tuhan bahwa Tuhan berada di atas waktu.

 

Bukan waktu yang menentukan nasib hidup yang ada awal danakhirnya, tetapi hanya Tuhan yang menentukannya. Seorang lelaki yang sudahlansia berkata begini: "Sayang sekali saya lahir lebih dahulu, jika sayalahir kemudian saya pasti menikmati semua kemudahan dan kemajuan pada zamanini." Sebaliknya seorang remaja juga berkata: "Yang membuat saya iriialah orang-orang dewasa lebih matang dan berhasil dalam usaha-usahanya."

 

Kedua ungkapan hati ini adalah contoh cara pandang manusiayang sangat menggantungkan nasib hidupnya dengan waktu. Hal ini adalah bagiandari sikap hidup yang superfisial, atau menikmati hidup hanya di permukaansaja. Bagi orang-orang beriman, kehidupan dan tujuannya harus lebih mendalamdan bercita-cita mencapai puncak tertinggi. Cara hidup beriman itu adalah hidupdi dalam Tuhan yang sudah menjelma dari Sabda kekal menjadi manusia. Kitahendaknya hidup sebagai murid-murid Yesus yang sejati dan biarlah Dia yangmenuntun hidup kita. Kita diajarkan untuk mengikuti Tuhan yang menentukan hidupkita hari ini dan esok.

 

Marilah kita berdoa. Dalam namaBapa ... Ya Bapa, berkatilah kami supaya kami dapat mengisi setiap waktu hidupkami dengan sikap dan cara yang sesuai dengan kehendak-Mu. Bapa kami yang adadi surga ... Dalam nama Bapa ...

Show more...
1 week ago
7 minutes 6 seconds

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Reading and meditation on the Word of God on Tuesday, the sixth day in the Octave of Christmas, December 30th, 2025

Delivered by Nia from the Parish of Good Shepherd in the Diocese of Surabaya, Indonesia. 1 John 2: 12-17; Rs psalm 96: 7-8a.8b-9.10; Lukas 2: 36-40.


LOVE OF GOD CONQUERS LOVE OF THE WORLD

 

Our meditation today is entitled: Love of God ConquersLove of the World. The first letter of John in today's first reading invitesthe faithful to re-examine the direction of their love and the attachment oftheir lives. The writer of the letter reminds us that Jesus Christ has forgiventhe sins of mankind through His loving obedience, even to the point ofsuffering and death.

 

That sacrifice is not ordinary, but an act ofredemption that changes man's relationship with God. Christ bore the punishmentthat should fall upon men, that they might be reconciled to the Father andobtain new life. Therefore, the life of believers is no longer based on worldlydesires, but on love for the Lord, the Savior.

 

In response to that redeeming love, John invites thepeople to strengthen their love for God, not for the world and everything init. The world in the sense of this letter is not God's good creation, but asystem of human desires that is selfish and takes the men away from God.Everything that comes from the world—the desires of the flesh, the lusts of theeyes, and the pride of life—do not come from the Father. When man allowshimself to be dominated by that impulse, he loses his love for God.

 

The desire of the flesh points to an impulse thatindulges lust and unbridled self-pleasure. Eye desire is an inner attitude thatis easily attracted to outward things, position, and possession, as ifhappiness were measured by what is seen. While the arrogance of life reflectspride that is rooted in a sense of self-sufficiency, without the need for God.Even though all this is temporary and will pass, because the world with all itsdesires is heading for destruction. On the contrary, those who abide in God'slove will live forever.

 

Love for God is not just a religious feeling, but areal life choice. It is manifested in obedience, faithfulness, and awillingness to rearrange the priorities of life according to God's will. Itgives a new direction to the way humans view suffering, sacrifice, and service.

 

One of the beautiful examples of faith is displayed bythe prophetess Hannah in the Gospel of Luke. After experiencing a life that wasnot easy, she chose to stay in the Temple, praying and fasting day and night.Hannah did not seek comfort in worldly things, but offered her life to God infaithfulness and hope. When little Jesus was presented in the Temple, Hannahwas able to recognize God's work of salvation and praise Him. Her attitudeshows that a heart that is directed to God will be sensitive to His presence.

 

Let us pray. In the name of the Father ... O merciful God,purify our minds and hearts from all the desires of this world that take ourattention away from You and save us from all the temptations of this world.Glory to the Father and to the Son and to the Holy Ghost ... In the name of theFather ...

Show more...
1 week ago
7 minutes 40 seconds

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Selasa, hari ke-6 dalam Oktaf Natal, 30 Desember 2025

Dibawakan oleh Ari Hartanti dari Gereja Santo Mikhael, Paroki Pangkalan TNI-AU Yogyakarta di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. 1 Yohanes 2: 12-17; Mazmur tg 96: 7-8a.8b-9.10; Lukas 2: 36-40.


KASIH KEPADA ALLAH MENGALAHKAN KASIH KEPADA DUNIA

 

Renungan kita pada hari ini bertema: Kasih Kepada AllahMengalahkan Kasih kepada Dunia. Surat Yohanes yang pertama dalam bacaan pertamahari ini mengajak umat beriman untuk memeriksa kembali arah kasih danketerikatan hidupnya. Penulis surat itu mengingatkan bahwa Yesus Kristus telahmengampuni dosa-dosa manusia melalui ketaatan-Nya yang penuh kasih, bahkansampai pada penderitaan dan kematian.

 

Pengorbanan itu bukanlah sesuatu yang biasa, melainkantindakan penebusan yang mengubah relasi manusia dengan Allah. Kristusmenanggung hukuman yang seharusnya jatuh atas manusia, agar merekadiperdamaikan dengan Bapa dan memperoleh hidup yang baru. Karena itu, hiduporang beriman tidak lagi berdiri di atas dasar keinginan duniawi, melainkanatas kasih kepada Allah, Sang Penyelamat.

 

Sebagai tanggapan atas kasih penebusan tersebut,Yohanes mengundang umat untuk memperkuat kasihnya kepada Tuhan, bukan kepadadunia dan segala yang ada di dalamnya. Dunia dalam pengertian surat inibukanlah ciptaan Allah yang baik, melainkan sistem keinginan manusia yang egoisdan menjauhkan hati dari Allah. Segala sesuatu yang berasal daridunia—keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup—tidak berasal dariBapa. Ketika manusia membiarkan dirinya dikuasai oleh dorongan itu, ia akankehilangan kasihnya kepada Tuhan.

 

Keinginan daging menunjuk pada dorongan yang memanjakanhawa nafsu dan kesenangan diri tanpa kendali. Keinginan mata adalah sikap batinyang mudah tertarik pada hal-hal lahiriah, kedudukan, dan kepemilikan,seolah-olah kebahagiaan diukur dari apa yang tampak. Sementara keangkuhan hidupmencerminkan kesombongan yang berakar pada rasa cukup atas diri sendiri, tanpamembutuhkan Allah. Padahal semuanya ini bersifat sementara dan akan berlalu,sebab dunia dengan segala keinginannya sedang menuju kebinasaan. Sebaliknya,mereka yang tinggal dalam kasih Allah akan hidup untuk selama-lamanya.

 

Kasih kepada Allah bukan sekadar perasaan religius,melainkan pilihan hidup yang nyata. Ia terwujud dalam ketaatan, kesetiaan, dankesediaan menata kembali prioritas hidup sesuai kehendak Tuhan. Kasih itumemberi arah baru bagi cara manusia memandang penderitaan, pengorbanan, danpelayanan.

 

Salah satu teladan iman yang indah ditampilkan olehnabi perempuan Hana dalam Injil Lukas. Setelah mengalami pengalaman hidup yangtidak mudah, ia memilih untuk menetap di Bait Allah, berdoa dan berpuasa siangmalam. Hana tidak mencari penghiburan di dalam hal-hal duniawi, melainkanmempersembahkan hidupnya bagi Tuhan dalam kesetiaan dan pengharapan. KetikaYesus kecil dihadirkan di Bait Allah, Hana mampu mengenali karya keselamatanAllah dan memuji-Nya. Sikapnya menunjukkan bahwa hati yang terarah kepada Tuhanakan peka terhadap kehadiran-Nya.

 

Marilah kita berdoa. Dalam namaBapa … Ya Allah mahamurah, murnikanlah pikiran dan hati kami dari semuakeinginan dunia ini yang menjauhkan perhatian kami dari-Mu dan selamatkanlahkami dari segala pencobaan dunia ini. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan RohKudus … Dalam nama Bapa …

Show more...
1 week ago
9 minutes

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Reading and meditation on the Word of God on Monday, the fifth day in the Octave of Christmas, December 29th, 2025

Delivered by Johana from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. 1 John 2: 3-11; Rs psalm 96: 1-2a.2b-3.5b-6; Luke 2: 22-35.


A FREE JOY

 

The title for ourmeditation today is: A Free Joy. There were priests, religious men and women whoheld for the first time a reunion in their parish of origin. The celebrationand party were so lively and full of memories. One of the memories was thatthey met Aunt Maria, a childless widow who served as the sacristan in theParish church for decades. Many priests and nuns have known Aunt Maria assacristan since they were children. The reunion was truly a blessed moment forthe sacristan Maria.

 

For Aunt Maria,working and serving in the Church for the rest of her life was an endless joy.This joy is free, because it does not need a complicated process, there are noapplications and recruitment tests. Someone needs only good will, joy,generosity, and faitfulness. This is also the experience of Simeon and Hannah,old man and woman who devoted their lives in the temple, in prayer andsacrifice. They found joy there. They hoped that one day salvation andliberation would come for the people of Israel.

 

Both Aunt Maria and thosetwo old persons, they inspire us about joy as a blessing from God. According tothe Scriptures, grace is free and not to be puchased. What is really needed isour willingness to stay and serve God through the Church, so that grace andblessings will be poured out to us in abundance. Aunt Maria found the LordJesus through the meeting with the fruits of God's calling from her parish. Simeonand Hannah themselves met the child Jesus and believed that their lives werealready full and sufficient.

 

We can learn fromthis inspiration. In this Christmas season, we at least find in Jesus Christ ananswer to our questions, doubts, searches or hopes. That answer can be either athanskgiving for a meaningful year 2025 that is going away or a meaningfulrealization of dreams in the coming year 2026. That is why we believe andunderstand that joy as the grace of God is gratuitous. It is good that everyone of us would mention one's own dream during moments of prayer and encounterwith God.

 

Aunt Maria, Simeonand Hannah expressed their joy and gratefulness. They found the true meaning ofthe Gospel, which is God who came to find and give meaning to their lives. We hopethat we can also find such joy. The Gospel that opens its meaning and shapesour lives is the Gospel of life, therefore we call it the good news. We mustproclaim the good news of the Lord.

 

Let's pray. In the name of the Father... O Lord Jesus Christ, bless us with the fullness of Your Spirit. May we everjoyful to give You thanks for all the goodness and successes that we haveachieved in each of our work and sacrifice. Give us also encouragement to workhard. Hail Mary, full of Grace ... In the name of the Father...

Show more...
1 week ago
8 minutes 26 seconds

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Senin dalam Oktaf Natal ke-5, 29 Desember 2025

Dibawakan oleh Ningrum dari Paroki Santo Mikhael Pangkalan Yogyakarta dan Wismu dari Paroki Kristus Raya Bajiro Yogyakarta di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. 1 Yohanes 2: 3-11; Mazmur tg 96: 1-2a.2b-3.5b-6; Lukas 2: 22-35.


SUKA CITA GRATIS

 

Tema renungan kita pada hari ini ialah: Suka Cita Gratis.Para pastor, biarawan dan biarawati mengadakan reuni di paroki asalnya. Suasanadan pesta begitu meriah dan penuh dengan kenangan. Salah satu kenangan ialahmereka berjumpa dengan Tante Maria, seorang janda tak beranak yang menjadikoster di gereja Paroki sudah sekian puluhan tahun. Banyak pastor danbiarawan-biarawati sudah mengenal Tante Maria sebagai koster sejak mereka masihanak-anak. Reuni itu sungguh menjadi peristiwa penuh rahmat bagi koster Maria.

 

Bagi Tante Maria, bekerja dan melayani di Gereja dalamsisa hidupnya merupakan sebuah suka cita yang tidak berakhir. Suka cita inigratis, karena tidak perlu proses yang berbelit, tidak ada lamaran dan teskepegawaian. Ia hanya perlu kemauan, kegembiraan, suka rela, dan iman yangkuat. Ini juga menjadi pengalaman Simeon dan Hana, orang-orang usia tua yangmengabdikan hidupnya di dalam bait suci, dalam doa dan pengorbanan. Merekatemukan suka cita di situ. Mereka berharap suatu saat yang tepat, akan datang pembebasanbagi bangsanya.

 

Baik Tante Maria maupun Simeon dan Hana, merekamenginspirasikan kita tentang suka cita yang merupakan rahmat dari Tuhan.Menurut kitab suci, rahmat itu gratis dan sungguh tidak perlu diberi harga.Yang sangat diperlukan ialah kerelaan kita untuk menetap dan berbakti kepadaTuhan melalui Gereja-Nya, maka rahmat dan berkat itu akan dicurahkan kepadakita dengan melimpah. Tante Maria menemukan Tuhan Yesus, dan secara konkret iareuni dengan buah-buah panggilan Tuhan dari parokinya. Simeon dan Hana sendiriberjumpa dengan kanak Yesus dan ia menganggap bahwa hidupnya sudah penuh dancukup.

 

Kita mesti dapat belajar dari inspirasi ini. Yesus Kristusdi dalam masa Natal ini, mesti dapat memberikan paling kurang satu jawaban ataspertanyaan, keraguan, pencarian atau harapan kita. Jawaban itu kita dapatkanselama tahun yang sedang berlalu pergi dan semakin terwujud pada tahun yangakan datang ini. Dengan demikian kita sungguh meyakini dan mengerti bahwa sukacita dari Tuhan memang cuma-cuma atau gratis. Kita masing-masing dapatmenyebutkannya, khususnya pada saat berdoa dan berbicara dengan Tuhan.

 

Tante Maria, Simeon dan Hana meluapkan kegirangan dan sukacitanya. Mereka menemukan makna Injil yang sesungguhnya, yaitu Tuhan yangdatang menjumpai dan memberikan makna bagi hidup mereka. Semoga kita semua jugadapat menemukan suka cita yang demikian. Injil yang telah terbuka maknanya danmembentuk hidup kita merupakan Injil kehidupan, oleh karena itu kita sebutsebagai kabar  gembira. Kabar itu harusdapat kita wartakan.

 

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan YesusKristus, berkatilah kami dalam semangat untuk menyukuri semua kebaikan danhasil yang kami capai dalam setiap pekerjaan dan pengorbanan kami. Berikan kamisemangat untuk selalu bekerja keras. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam namaBapa ...

Show more...
1 week ago
8 minutes 5 seconds

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Renungan harian katolik yang ditulis oleh Pastur Peter Tukan SDB. Diupdate setiap harinya.